DetikNews
Selasa 22 Agustus 2017, 20:36 WIB

Satukan 2 Kubu, Organisasi Sayap Golkar akan Gelar Munas

Dwi Andayani - detikNews
Satukan 2 Kubu, Organisasi Sayap Golkar akan Gelar Munas SOKSI akan menggelar munas. (Dwi/detikcom)
Jakarta - Organisasi sayap Partai Golkar, Sentral Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia (SOKSI), akan menggelar musyawarah nasional (munas) untuk menyatukan dua kubu. Plt Ketua SOKSI Ali Wongso Sinaga berharap terjadi rekonsiliasi dengan SOKSI kepemimpinan Ade Komarudin (Akom).

"Harapan kami melalui munas nanti, dengan semangat rekonsiliasi dan kekeluargaan, Munas SOKSI tanggal 7-9 September yang akan datang akan terlaksana lancar dan baik. Dan harapan kami ke depan, hanya ada satu SOKSI," ujar Ali dalam jumpa pers di kantor DPP Golkar, Jl Anggrek Neli Murni, Jakarta Barat, Selasa (22/8/2017).

Sebelum munas, SOKSI akan menggelar rapat pimpinan nasional (rapimnas). Hal itu dilakukan untuk memilih Ketum SOKSI yang baru.

"Sebelum munas tanggal 7, kami akan laksanakan rapimnas tanggal 7 juga yang ketiga. Dan rapimnas SOKSI ini akan mewarnai keputusan di dalam munas, menyangkut pemilihan ketua umum siapa ketua SOKSI 5 tahun ke depan," ujar Ali.

Ali mengatakan DPP Partai Golkar telah mengundang semua pihak untuk melakukan munas. Namun Ali mengatakan Ketua SOKSI kubu Ade Komarudin tidak bersedia hadir.

"DPP Golkar telah mengundang semua pihak, tetapi hasilnya sampai hari ini Saudara Ade Komarudin tidak mau melakukan munas bersama. Bagi kami, SOKSI ini tidak boleh disandera siapa pun. Maka dari itu, harus munas," ujar Ali.

Ali mengatakan munas akan tetap dilakukan meski Ade Komarudin tidak bersedia hadir. Sebab, menurutnya, masih banyak kader yang ingin bersatu.

"Kami tetap berprinsip rekonsiliasi, meskipun institusinya tidak bersedia. Tetapi banyak orang orangnya yang bersedia bersatu," ujar Ali.

SOKSI Tetap Dukung Kepemimpinan Novanto

Tak hanya menggelar munas, Ali mengatakan, SOKSI akan mendukung kepemimpinan Ketum Golkar Setya Novanto. Keputusan ini akan diambil dalam rapimnas.

Seperti diketahui, Novanto saat ini ditetapkan sebagai tersangka kasus korupsi e-KTP. Meski begitu, SOKSI tetap mengedepankan asas praduga tak bersalah.

"Jika dikaitkan dengan kasus e-KTP di mana beliau statusnya apa yang disebut tersangka, bagi kita semua, termasuk bagi SOKSI, ada asas praduga tak bersalah yang harus dihormati semua pihak. Artinya, seseorang yang dinyatakan tersangka bukan berarti bersalah. Jadi dengan kata lain, belum tentu bersalah atau dengan kata lain belum inkrah," kata Ali.

Ali menuturkan SOKSI tetap menyatakan dukungannya pada kepemimpinan Presiden Joko Widodo. Ia mengatakan Novanto-lah yang dapat menjadi benteng tersebut.

"Membentengi kepemimpinan nasional Presiden Jokowi bagi kami adalah prinsip. Salah satu benteng yang efektif untuk itu adalah Pak Setya Novanto, Ketua Umum DPP Golkar yang di dalam Munaslub di Bali kita tetapkan sebagai partai pendukung pemerintah," tutup Ali.
(dkp/elz)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed