DetikNews
Senin 21 Agustus 2017, 18:35 WIB

Baca Pleidoi, Orang Dekat Patrialis Akui Terima Suap

Aditya Mardiastuti - detikNews
Baca Pleidoi, Orang Dekat Patrialis Akui Terima Suap Kamaludin (Foto: Agung Pambudhy/detikcom)
Jakarta - Orang dekat Patrialis Akbar Kamaludin mengaku menerima uang sebesar USD 50 ribu dari Basuki Hariman. Kamaludin menyebut sebagai uang itu diberikan untuk membantu meloloskan permohonan uji materi UU no 41/2015 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan.

"Saya hanyalah orang yang disuruh atasan saya yaitu Basuki Hariman untuk menyampaikan keinginan Basuki Hariman kepada Patrialis Akbar. Bantuan yang dimaksud adalah putusan perkara 129/PUU-XIII/2015 UU No 41/2015 tentang uji materi dapat dikabulkan oleh Mahkamah Konstitusi," kata Kamaludin saat membacakan pleidoinya di PN Tipikor Jakarta, Jl Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Senin (21/8/2017).

Kamaludin menyebut Basuki yang merupakan bos CV Sumber Laut Perkasa sangat berkepentingan dengan dikabulkannya permohonan uji materi tersebut. Pasalnya berlakunya UU nomor 41/2015 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan itu menghancurkan bisnis impor daging sapi milik Basuki.

Kamaludin kemudian menampik dakwaan penuntut umum jika turut serta bersama Patrialis Akbar menerima USD 50 ribu dan janji menerima uang Rp 2 miliar dari Basuki Hariman. Dia merasa hanya menyampaikan pesan-pesan Basuki ke Patrialis dan sebaliknya.

"Pembelaan saya tidak benar saya melakukan yang didakwakan. Peranan saya hanya menyampaikan pesan-pesan yang ingin disampaikan Pak Basuki kepada Patrialis dan sebaliknya. Saya mengakui bahwa saya menerima USD 50 ribu dari Pak Basuki Hariman. Dari total uang USD 50 ribu, sebesar USD 30 ribu memang diperuntukkan agar saya bisa bermain golf dengan Pak Patrialis Akbar," jelasnya.

Uang untuk golf itu merupakan strategi Basuki agar Kamaludin bisa menyampaikan pesan-pesannya ke Patrialis Akbar. Dari pertemuan itu dia membenarkan Basuki dan Patrialis bisa bertemu setidaknya dua kali untuk membahas soal permohonan uji materi. Dia juga mengakui jika uang itu tidak seluruhnya digunakan untuk Patrialis namun untuk dirinya pribadi dan kantor.

"Saya mengakui bahwa uang itu tidak saya habiskan seluruhnya untuk Patrialis saya pakai untuk kantor dan pribadi. Saya telah membuat dan mengirimkan surat kesanggupan ke KPK untuk mengembalikan sisa uang ini," kata dia.

"Uang ini memang tidak diberikan untuk Patrialis, namun permintaan saya kepada Basuki Hariman untuk mempergunakan uang tersebut bermain golf bersama Patrialis. Jadi yang ingin Saya buktikan adalah bahwa saya membantu Basuki Hariman untuk bisa berhubungan dengan Patrialis Akbar," katanya.

Kamaludin kemudian menjelaskan soal duit USD 20 ribu yang disebut untuk umrah Patrialis. Saat makan malam di Penang Bistro pada 20 Desember 2016 lalu, Patrialis menyampaikan ke Basuki dan dia jika akan berangkat umrah.

"Basuki langsung bertanya pada saya berapa yang harus persiapkan uang. Saya langsung menyebutkan angka USD 20 ribu karena sebagian daripadanya dalah juga untuk keperluan saya pribadi. Jadi Basuki mengetahui bahwa sebagian uang ini adalah uang saku umrah untuk diberikan ke Pak Patrialis," terang Kamaludin.

Kamaludin menyebut pada 22 Desember 2016, Patrialis menanyakan hasil pertemuan di Penang Bistro. Pertanyaan itu, kata Kamaludin, dia artikan sebagai perintah untuk menanyakan atensi Basuki terhadap rencana umrah Patrialis.

Kamaludin mengaku menghubungi sopir Basuki untuk menanyakan soal titipan tersebut yang dijawab 'tidak ada'. Kemudian Ng Fenny staf Basuki yang menghubunginya dan memberitahukan jika uang itu dititipkan ke sopir Fenny.

"Selanjutnya uang tersebut saya terima di parkiran Buaran Plaza. Setelah uang berada Pada saya, saya menelepon Pak Patrialis Akbar yang kemudian Pak Patrialis meminta saya mengantarkan ke rumahnya itu juga tanggal 22 Desember 2016. Saya menyerahkan uang USD 10 ribu yang lain saya pergunakan untuk keperluan pribadi saya," jelasnya.

Kemudian Pada 19 Januari 2017, Kamaludin mengaku mendapat bocoran draft putusan permohonan uji materi UU No 41 tahun 2014 di ruangan Patrialis, dengan memfoto lewat HP. Selanjutnya draft itu ia tunjukkan ke Basuki. Namun pada saat bertemu dengan Patrialis di Hotel Borobudur, Patrialis mengatakan Rabu putusan itu akan dibacakan.

"Atas informasi tersebut saya menyampaikan kepada Basuki Hariman dan saya juga menyampaikan kepada Basuki Hariman 'tolong disiapkan komitmennya yaitu Rp 2 miliar'. Pada 24 Januari 2017 Pak Patrialis menelepon saya mengatakan bahwa 'kereta tidak jadi berangkat'," katanya.

Kamaludin mengartikan informasi tersebut dengan penundaan pembacaan putusan uji materi. Oleh karenanya dia menolak pemberian uang Rp 2 miliar dari Basuki Hariman.

Di akhir pleidoinya dia mengaku bersalah karena telah melanggar hukum. Dia memohon maaf Atas kesalahan yang dia perbuat.

"Ketua majelis hakim yang saya muliakan, atas kesalahan saya itu saya mohon agar dapat dihukum sesuai dengan bobot kesalahan saya," pintanya.

Dia merasa tuntutan JPU sebanyak 8 tahun dan denda Rp 250 juta subsider 3 bulan kurungan ditambah uang pengganti sebesar USD 40 ribu atau 9 bulan kurungan sangat berat. Sebagai kepala keluarga dia masih harus menafkahi istri dan 3 anaknya. Tak lupa dia menutup pleidoinya dengan permintaan maaf untuk Patrialis dan juga Basuki.

"Sekali lagi saya juga meminta maaf kepada Bapak Patrialis Akbar dan saudara Basuki Hariman bila kejujuran saya dianggap merugikan saudara," ujar dia.
(ams/dhn)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed