DetikNews
Senin 21 Agustus 2017, 06:20 WIB

Basuki dan Fenny Jalani Sidang Putusan Suap Hakim MK

Faiq Hidayat - detikNews
Basuki dan Fenny Jalani Sidang Putusan Suap Hakim MK Foto: Agung Pambudhy
Jakarta - Terdakwa Basuki Hariman dan Ng Fenny akan menjalani sidang putusan perkara suap hakim konstitusi, Senin (21/8) hari ini. Keduanya didakwa bermaksud memuluskan permohonan uji materi undang-undang Nomor 41 tahun 2014 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan.

"Iya biasa jam pagi," kata kuasa hukum Basuki, Iktut Sudiarse saat dikonfirmasi detikcom, Minggu (20/8/2017).

Awal perkara tersebut, menurut Iktut, terjadi saat Basuki sedang membahas gugatan undang-undang Nomor 41 tahun 2014 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan. Namun Kamaludin malah ikut campur dan mengaku mengenal hakim MK.

"Ini terkait cerita sebenarnya, awalnya BH (Basuki Hariman) ngobrol tentang gugatan di MK tentang daging kerbau dari India. Tiba-tiba K (Kamaludin) nimbrung, (mengaku-red) kenal hakim MK," kata Iktut Sudiarse.

"Ini dagelan dan harusnya angket KPK itu didukung agar masarakat tidak dibodohin lagi seperti zaman Orba," sambung Iktut.

Kemudian, Iktut berkata Kamaludin mengenalkan Basuki dengan salah satu hakim MK Patrialis Akbar dan beberapa pertemuan tanpa membahas uang atau menjanjikan apapun.

"Lalu K (Kamaludin) kenalin BH (Basuki) dengan PA (Patrialis) dan pertemuan beberapa kali tanpa ada uang, janji atau bentuk apapun. Tiga kali K (Kamaludin) minta uang ke BH (Basuki) dan dikasih USD 50.000 untuk pribadi," kata Iktut.

Selain itu, Iktut menyatakan Basuki memerintahkan Sekretarisnya Ng Fenny untuk menukarkan uang Rp 2 miliar dalam uang 213.000 dolar Singapura. Kemudian, uang 200.000 dolar Singapura dipegang oleh Basuki dan uang 13.000 dolar Singapura disimpan di brankas kantornya oleh pegawainya.

"BH (Basuki) perintah F (Ng Fenny) untuk tukar uang Rp 2 miliar dan F (Fenny) suruh keuangan tukar jadi dolar Singapura 213.000. Kemudian dolar Singapura 200.000 dipegang BH (Basuki), lalu yang 13.000 (dollar Singapura) disimpan di brankas kantor oleh keuangan (yang kemudian disita KPK ). Tiba-tiba katanya OTT ternyata bohongan, nggilani," kata Iktut.

"Nah aku lihat gelagat, BH (Basuki) ngasih uang ke K (Kamaludin) itu dijadikan korupsi, dengan cerita K itu mewakili PA (Patrialis Akbar), ini tidak boleh," imbuh dia.

Iktut menilai Kamaludin yang mempunyai inisiatif menemui Patrialis Akbar, padahal Kamaludin merupakan pegawai Basuki. Menurut dia, Basuki juga hanya membutuhkan informasi putusan uji materi tersebut di MK.

"Yang benar K (Kamaludin) sebenar-benarnya adalah pegawai BH (Basuki) dan K (Kamaludin). Yang punya inisiatiif ketemu PA (Patrialis Akbar). Dan keperluan BH (Basuki) hanya perlu informasi putusan MK dan ini bukan tindak pidana," ujar Iktut.

Dalam perkara ini, jaksa menuntut terdakwa Basuki Hariman dengan hukuman penjara 11 tahun, sedangkan Ng Fenny dituntut hukuman penjara 10,5 tahun. Jaksa menyatakan Basuki dan Ng Fenny terbukti menyuap dan menjanjikan sesuatu kepada eks hakim konstitusi Patrialis Akbar guna memuluskan permohonan uji materi UU No 41/2014 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan.
(fai/jor)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed