Kepada Mahasiswa, Panglima Ingatkan Bahaya Migrasi Sampai Narkoba

Kepada Mahasiswa, Panglima Ingatkan Bahaya Migrasi Sampai Narkoba

Bisma Alief Laksana - detikNews
Minggu, 20 Agu 2017 14:51 WIB
Kepada Mahasiswa, Panglima Ingatkan Bahaya Migrasi Sampai Narkoba
Foto: Panglima TNI Gatot Nurmantyo di Kampus Tri Sakti
Jakarta - Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo berpesan kepada mahasiswa baru Universitas Trisakti mewaspadai adanya migrasi besar-besaran penduduk dunia ke Indonesia. Dia mengingatkan bila Indonesia akan menjadi bisa saja nantinya dihuni bukan oleh warga negara Indonesia lagi.

Gatot memberi contoh benua Amerika, Australia dan Singapura yang penduduk aslinya mulai tergusur oleh pendatang. Dia juga memberi contoh suku asli Jakarta, yaitu Betawi, yang saat ini mulai tergusur.

"Benua Amerika awalnya diisi suku Indian sekarang hampir punah. Australia, suka Aborigin juga hampir punah. Singapura, tadinya berisi suku Melayu sekarang mulai terpinggirkan. Di Indonesia, Betawi di Jakarta sekarang kemana, banyak yang ke Banten," kata Gatot di Universitas Trisakti, Grogol, Jakarta Barat, Minggu (20/8/2017).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kalau tidak waspada, negara ini bisa saja pendudukannya nanti bukan kita tapi orang lain. Itu ancaman," lanjutnya.

Tak hanya itu, Jenderal Gatot juga tidak ingin anak muda dan bangsa Indonesia takluk dengan peredaran narkoba. Dia menyebut Tiongkok yang dulu begitu kuat, dibuat menjadi negara pecandu narkoba. Hasilnya adalah Taiwan, Hong Kong dan Macau dibuat melepaskan diri dari Tiongkok.

"Belum lagi narkoba. Cina (Tiongkok) yang begitu kuat, dibuat menjadi pecandu, perang candu terjadi. Akhirnya Hong Kong, Taiwan, Macau lepas," tuturnya.

Untuk di Indonesia, mantan KASAD itu mengatakan ada sekitar 2 persen atau 5,1 juta penduduk Indonesia yang menjadi pecandu narkoba. Dalam setahun, ada 15 ribu orang Indonesia yang meninggal karena narkoba. Gatot berucap, jumlah tersebut lebih banyak dibandingkan dengan korban teror dalam setahun.

"Di Indonesia, 2 persen atau 5,1 juta yang kena narkoba. Setahun 15 ribu orang meninggal tiap tahun karena narkoba. Teror saja tidak segitu. Tahun 2015 ada 4,5 ton narkoba yang disita. Tahun 2016 narkoba yang beredar ada 250 ton di Indonesia," sebutnya.

Menurut Gatot, ada usaha menjadikan Indonesia menjadi bangsa pencandu narkoba agar mudah dikuasi oleh negara lain. Hal tersebut bisa dilihat dari peredaran narkoba yang sekarang sudah merambah anak-anak TK. Tak hanya itu, narkoba juga beredar sudah sampai ke daerah perbatasan.

"Agar generasi kita jadi oon, supaya mudah dikuasai negara lain. Narkoba bukan cuma menyasar orang dewasa dan remaja, dari TK sudah dicekokin lewat permen. Bahkan peredarannya juga bukan hanya di kota besar saja, tapi sampai perbatasan," ungkapnya.

Terkait terorisme, Gatot menyebut hal tersebut adalah hal yang menjengkelkan. Dia menyebut sudah sejak 2 tahun lalu mewanti-wanti bahwa ISIS akan masuk ke Asia Tenggara. Ucapan Gatot tersebut dibuktikan dengan adanya tragedi di Marawi, Filipina Selatan, beberapa waktu lalu.

"Filipina tidak ada sumber daya alam disana. Itu cuma loncatan saja untuk ke Malaysia dan Indonesia," tutupnya.

Harus Punya Mimpi Tinggi

Dalam pidatonya, Gatot juga meminta para mahasiswa baru tidak takut dalam menghadapi persaingan global.

Di awal pidatonya, Gatot nanyakan pada beberapa mahasiswa baru apa cita-cita mereka kuliah di Universitas Trisakti. Jawaban yang didapat oleh Gatot pun beragam. Ada yang ingin menjadi dokter gigi yang berbakti pada negara, ada yang ingin menjadi akuntan yang dipercaya banyak orang dan ada sekedar mau membahagiakan orang tua. Mendengar jawaban dari beberapa mahasiswa baru, Panglima merasa kecewa dengan jawaban mereka.

"Saya mau bilang, kenapa anda kuliah disini kalau cuma mau jadi dokter gigi, jadi akuntan. Nggak usah kuliah disini, minta Pak Rektor keluar saja," tegas Gatot.

Bukan tanpa alasan Gatot mengatakan seperti itu. Menurut Gatot, dalam menghadapi persaingan global para mahasiswa baru harus memiliki mimpi yang besar. Dia meminta para calon dokter gigi bermimpi untuk memiliki rumah sakit, sementara calon akuntan bermimpin memiliki perusahaan sendiri.

"Dalam kompetisi global perlu kompetensi tinggi. Jadi jangan punya mimpi rendah. Kamu harus punya mimpi yang tinggi. Tanamkan punya mimpi tinggi dan itu bisa diwujudkan," ujar Gatot.

Tak hanya itu, Jenderal Gatot pun membuka beberapa rahasia suksesnya kepada para mahasiswa baru. Pertama, kata Gatot, adalah berdoa pada Tuhan agar mimpi besar mereka terwujud. Yang kedua, fokus pada mimpi besar yang sudah dicanangkan.

"Ketiga, optimis mimpi bisa jadi nyata. Selanjutnya, jangan cuma mimpi, tapi harus action yang mengarah kesana. Selanjutnya, fleksibel," papar jenderal bintang empat itu.

Dia juga berpesan kepada para mahasiswa baru agar tidak putus semangat bila diawal-awal indeks prestasi (IP) mereka rendah. Sebab, hal tersebut harus menjadi pemacu untuk belajar lebih.

"Kalau IP rendah, buka berarti gagal. Tapi harus lari, tambah waktu belajar. Kesuksesan itu nggak bisa diraih sendiri, harus punya network yang luas," kata Gatot.

"Terakhir, lakukan dengan hati, do by heart," imbuhnya.

Panglima kembali menegaskan agar para mahasiswa baru tidak takut untuk bermimpi. Karena dalam menghadapi persaingan global, dirinya perlu orang-orang yang mampu bermimpi tinggi.

"Untuk menghadapi kompetisi global, saya perlu orang-orang yang punya mimpi tinggi," sebutnya.

"Karena masa depan bangsa di tangan Anda," tutup Gatot (bis/fjp)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads