DetikNews
Sabtu 19 Agustus 2017, 19:06 WIB

Pangdam Udayana: Ratusan Anggota ISIS 'Tidur' di Bali, NTT dan NTB

Prins David Saut - detikNews
Pangdam Udayana: Ratusan Anggota ISIS Tidur di Bali, NTT dan NTB Foto: Prins David Saut/detikcom
Denpasar - Panglima Kodam Udayana Mayjen TNI Komaruddin Simanjuntak menyatakan ada puluhan hingga ratusan anggota ISIS yang pulang ke Bali dan Nusa Tenggara. 50 Anggota di antaranya berada di Bali.

"Kalaupun saya katakan ada 50 di Bali, 25 di NTT dan 600 di NTB, itu posisinya terkontrol dan dia 'tidur'," kata Komaruddin di Denpasar, Bali, Sabtu (19/8/2017).

Komaruddin menambahkan TNI bersama Polri telah mengetahui posisi semua anggota ISIS tersebut. Mereka akan tetap dibuat 'tertidur' atau non-aktif demi stabilitas nasional dan kedaulatan Republik Indonesia.

"Jadi harus kita buat dia tertidur. Sel-sel tertidur sehingga anak sekolah bisa tetap belajar dengan baik, pemerintahan berjalan baik, pengusaha bisa berbisnis dengan baik dan wartawan juga bisa bikin berita baik-baik," ujar Komaruddin.

Komaruddin menilai warga negara Indonesia yang telah memilih ISIS daripada bangsanya sendiri itu tetap memiliki hak. Walau demikian, mereka tidak bisa lagi bergerak bebas seperti warga negara Indonesia yang setia pada bangsa sendiri.

"Dia kan haknya sebagai warga negara masih ada, walau mungkin dia menyimpang. Walaupun dari Suriah sana dia kembali ke Indonesia, bukan berarti dia bebas begitu saja. Dia terdaftar di kepolisian dan di negara, di mana alamatnya, posisinya, itu pasti termonitor," ucap Komaruddin.

Komaruddin juga menyatakan, kearifan lokal adalah kekuatan bangsa Indonesia. Kekuatan itu mampu membendung paham-paham radikal yang berlawanan dengan Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika dan. NKRI.

"Kearifan lokal itu kekuatan kita, supaya tertanam konsesnsus berbangsa dan tidak bisa dipengaruhi (paham radikal). Pancasila itu tetap di hati sanubari bangsa Indonesia," kata Komaruddin.

Menurut Komaruddin, paham radikal bisa masuk dan diterima segelintir anak bangsa karena ketidakpahaman atas sejarah bangsa Indonesia. Masuknya paham radikal juga disebabkan kemajemukan masyarakat Indonesia.

"Itu adalah anak bangsa, sekelompok kecil yang tidak mengerti sejarah. Kalau dia mengerti sejarah bangsa dan negara, maka dia tidak akan berbuat seperti itu. Alau ada paham negara lain masuk ke Indonesia, dia mau, karena kita heterogen dan majemuk," ujar Komaruddin.

Ditambahkan, salah satu upaya yang bisa dilakukan untuk menangkap paham radikal adalah dengan memperhatikan sejarah yang benar. Sehingga pemahaman atas sejarah itu ditambah kearifan lokal akan membuat bangsa Indonesia menjadi bangsa besar.

"Anak bangsa yang tidak mengerti sejarah itu harus diperhatikan supaya dia tidak mudah dipengaruhi," ucap Komaruddin.
(vid/jor)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed