"Di Jawa Tengah, 14.000 (masyarakat penerima bansos), nggak kecil (jumlahnya), yang mengundurkan diri karena mereka sudah tidak miskin lagi. Jawa Barat teridentifikasi 2.600 (masyarakat penerima bansos)," kata Harry di kantor Kementerian Komunikasi dan Informatika, Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Jumat (18/8/2017).
Harry menuturkan Jawa Tengah menjadi daerah yang paling banyak ditinggalkan masyarakat penerima bansos karena pendampingan yang gencar. Sosialisasi dilakukan kepada masyarakat penerima bansos di Jawa Tengah agar tidak merasa miskin.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kemensos gencar menghilangkan label 'miskin' kepada masyarakat penerima bansos. Harry mengatakan saat ini pihaknya akan melakukan resertifikasi terhadap status sosial ekonomi masyarakat penerima bansos dari 2007 sampai 2012.
"Sekarang kita harus melakukan resertifikasi terhadap status sosial ekonomi tahun 2007 sampai 2012. Yang paling banyak, sudah banyak yang mengundurkan diri karena mereka merasa sudah sejahtera. Malu nerima PKH (Program Keluarga Harapan)," ucapnya.
"Jadi budaya malu juga ditanamkan oleh para pendamping. Jangan merasa bangga karena menerima bantuan pemerintah terus-menerus. Itu yang harus kita upayakan," sambungnya.
Harry menyebut Kemensos mengharamkan penggunaan kata 'miskin' kepada sejumlah program bantuan. Penggunaan kata 'miskin' justru membuat masyarakat penerima bantuan melabeli diri tetap miskin.
"Jadi di family development session, di nama program, di aktivitas pendampingan, di kegiatan mikro para pendampingan, kita haramkan menggunakan istilah 'miskin'. Karena dengan diberikan kata 'miskin' itu melabel mereka. Membuat mereka mindset-nya 'oh saya ini kan miskin'," ungkapnya. (irm/nvl)











































