M Asad Shahab: Wartawan, Sejarahwan, Intelektual dan Diplomat

Sudrajat - detikNews
Kamis, 17 Agu 2017 08:29 WIB
Foto: M Asad Shahab berpose di depan Taj Mahal, India/ koleksi A. Mutalib Shahab
Jakarta - Bagi cendekiawan M. Dawam Rahardjo, sosok M. Asad Shahab bukan sekedar wartawan biasa. Ia sekaligus berperan sebagai diplomat yang bergaul dengan tokoh-tokoh nasional Indonesia dari semua kalangan ideologi, baik nasionalis, kalangan partai Islam, sosialis, sekuler dan komunis.

Di dunia Arab, ia berkomunikasi politik dengan tokoh-tokoh seperti Presiden Tunisia Habib Bourguiba, Jamal Abdul Naseer (Mesir), Ibnu Suud dan Amir Faisal (Arab Saudi).

"Ia berkenalan langsung dengan mereka bukan sekedar untuk wawancara atau mencari berita, tapi melakukan diplomasi yang diteruskan dengan menulis artikel-artikel di koran-koran terkemuka berbahasa Arab," tulis Dawam dalam pengantar buku "Sang Penyebar Proklamasi RI" yang dikutip detikcom, Kamis (17/8/2017).

Tak cuma menulis artikel untuk surat kabar, Asad Shahab juga menulis puluhan buku yang semuanya diterbitkan di Lebanon sebagai pusat penerbitan buku berbahasa Arab. "Masyarakat Timur Tengah mengenal Indonesia dan sejarah Indonesia dari buku-buku yang beliau tulis," kata pakar ilmu komunikasi yang juga cendekiawan muslim Jalaludin Rakhmat kepada detikcom melalui telepon, Rabu (16/8/2017) malam.

M. Asad Shahab: Wartawan, Sejarahwan, Intelektual dan DiplomatFoto: M Asad Shahab di masa muda/ koleksi A. Mutalib Shahab


Dari buku-buku yang ditulisnya, ia melanjutkan, dapat disimpulkan bahwa Asad adalah seorang juru catat sejarah perjuangan Indonesia. Secara khusus, lelaki kelahiran Jakarta, 23 September 1910 yang pernah kuliah bidang publisistik itu juga menulis soal sejarah masuknya Islam di Indonesia. Asad juga menulis soal perkembangan komunisme di Indonesia termasuk meletusnya Gerakan 30 September 1965.

"Jadi kalau ada ahli sejarah Timur Tengah akan menulis soal Indonesia, mereka pasti akan menghubungi Sayid Asad Shahab sebagai konsultannya. Atau paling tidak menjadikan buku-buku karya beliau sebagai referensi utamanya," kata Jalal.

Mungkin karena lebih banyak menulis dalam Bahasa Arab dan menerbitkannya di Timur Tengah, jejak intelektual Asad Shabab kurang dikenal di tanah airnya sendiri. Padahal di luar negeri, "Beliau itu sohor pisan (terkenal sekali) dan disegani karena intelektualismenya. Setiap kali usai bicara di forum internasional selalu mendapatkan standing ovation," Jalal mengenang. Ia mengaku sedikitnya pernah dua kali mendampingi Asad mengikuti konferensi internasional tentang dunia Islam di Malaysia dan Teheran, Iran pada pertengahan 1990-an.

Atas semua kiprahnya itu, Dawam menilai sosok Asad Shahab selayaknya diingat dan dihargai sebagai salah seorang bapak pendiri bangsa. "Ia sudah membentuk APB (Arabia Press Board) sebagai the fourth government pada 2 September 1945," tulis Dawam.

Tentang hal ini, Jalaludin Rakhmat sependapat dengan Dawam. Bila kita objektif ingin menghargai rekam jejaknya, "Saya pikir beliau pantas mendapat anugerah Pahlawan Nasional." (jat/rvk)