Asad Shahab dan APB Kabarkan Proklamasi RI ke Timur Tengah

Sudrajat - detikNews
Kamis, 17 Agu 2017 07:35 WIB
(Kiri ke Kanan) M. Asad Shahab, Presiden Sukarno, serta dua pendiri APB, Muhammd Alhabsyi dan M. Dhya Shahab /Foto: (Foto: Koleksi A. Mutalib Shahab)
Jakarta - Sehari setelah diangkat sebagai Presiden, Sukarno membuat maklumat kepada segenap rakyat Indonesia. Intinya, dia sangat berharap kepada orang-orang di sekitarnya untuk bisa menjalin suatu hubungan yang luas dengan dunia internasional.

"Di waktu yang lampau kita menyusun Negara Indonesia Merdeka menjalin hubungan dengan Dai Nippon. Pada saat ini, kita menyusun negara kita sendiri, kita perlu berhubungan dengan dunia Internasional," ucapnya pada 19 Agustus 1945.

Dalam pembicaraan yang lebih spesifik, Sukarno menyatakan pentingnya membentuk suatu kantor berita yang dapat menghubungkan Indonesia dengan negara-negara Asia dan Afrika. Hal ini dimaksudkan untuk mempengaruhi opini rakyat dan menentang segala usaha Belanda yang tetap ingin bercokol di Indonesia.

Sebagai salah seorang jurnalis yang hadir dalam pertemuan tersebut, Muhamad Asad Shahab membatin bahwa dirinya bisa berbuat sesuatu seperti yang diharapkan Sukarno. Aktif di dunia jurnalistik sejak 1936 membuatnya punya banyak jaringan hingga luar negeri, khususnya Timur Tengah. Pada 1938-1942, dia tercatat sebagai kontributor media berbahasa Arab, al-Mughatttan, di Mesir.

Bersama kakaknya, M. Dzya Shahab dan sahabatnya Husein Alhabsyi, dia lalu berembug tentang perlunya membentuk kantor berita berbahasa Arab. Hal ini ditempuh sebab saat itu sudah ada dua kantor berita, yaitu Antara yang jangkauannnya bersifat lokal dan Domei yang dikontrol oleh Jepang.

"Kalau kantor berita khusus berbahasa Arab belum ada, padahal ayah (Asad) punya banyak jaringan di negara-negara Timur Tengah," kata A. Mutalib Shahab, putra kedua almarhum Asad saat berbincang dengan detikcom di kediamannya, Rabu (16/8/2017) petang. Ia beberapa waktu lalu merilis biografi sang ayah bertajuk 'Sang Penyebar Berita Proklamasi RI'.

A Mutalib Shahab, putra kedua M. Saad ShahabA Mutalib Shahab, putra kedua M. Saad Shahab Foto: sudrajat


Asad cs sepakat menamai kantor berita dimaksud Arabian Press Board (APB) dan resmi berdiri 19 hari setelah Proklamasi Kemerdekaan atau 2 September 1945. Kata Arabian, menurut wartawan senior Solichin Salam di koran Angkatan Bersenjata terbitan 1 September 1993, sengaja digunakan untuk menarik perhatian dunia Islam serta negara-negara di Timur Tengah. Hal itu juga sekaligus dimaksudkan untuk mengelabui pihak Sekutu dan Belanda.

"Apabila mereka hendak bertindak keras, pasti berpikir seribu kali terhadap dampak dan akibatnya nama Sekutu dan Belanda di Timur Tengah," tulis Solichin.

Kantor APB, ia melanjutkan, menerbitkan buletinnya dalam tiga Bahasa, yakni Indonesia, Inggris, dan Arab.

"Berkat adanya APB ini, perjuangan bangsa Indonesia dikenal di dunia Islam, sehingga memperoleh simpati dan dukungan dari dunia Islam," tulis Solichin.

wartawan APB berpose di depan kantor mereka di Jalan Gang Tengah No 19Wartawan APB berpose di depan kantor mereka di Jalan Gang Tengah No 19/Foto: Repro buku 'Sang Penyebar Proklamasi RI'
(jat/rvk)