ADVERTISEMENT

Anggota DPR Minta Gedung

PDIP dan Demokrat Pernah Suarakan Gedung Baru

Erwin Dariyanto - detikNews
Kamis, 17 Agu 2017 02:32 WIB
Gedung Nusantara I DPR malam hari (Foto: Lamhot Aritonang/detikcom)
Jakarta - Keinginan untuk membangun gedung DPR yang baru rupanya bukan monopoli Fraksi Partai Golkar. Sebelum menjadi fraksi penguasa seperti saat ini, PDIP pernah menyuarakannya melalui Tjahjo Kumolo sebagai ketua fraksi.

Ia menyatakan prihatin dengan kondisi Gedung Nusantara I yang diklaimnya sudah banyak retak sehingga membahayakan keselamatan anggota dewan. Fraksinya pun mengusulkan agar pimpinan DPR mengagendakan rapat dengan Departemen Pekerjaan Umum sebagai penanggung jawab gedung tersebut.

"Kami sudah berinisiatif memanggil kontraktor. Kami diberi tahu kalau konstruksi bangunan Gedung Nusantara I sudah banyak yang retak dan tidak memenuhi persyaratan, 25 persennya dalam kondisi memprihatinkan," kata Tjahjo dalam rapat paripurna DPR, 27 Oktober 2009.

Menanggapi hal itu, Ketua DPR Marzuki Alie. Politikus Partai Demokrat langsung memerintahkan Sekjen DPR agar melakukan penelitian yang komprehensif atas Gedung Nusantara I.

"Ini menyangkut nyawa seluruh wakil rakyat dari seluruh Indonesia," kata politisi Partai Demokrat itu.

Selang beberapa waktu kemudian muncul kabar bahwa DPR mengajukan anggaran Rp 1,8 triliun untuk membangun gedung baru. Tak sekdar retak, kali ini kondisi gedung disebut sudah miring 7 derajat. Adalah Wakil Ketua DPR Pryio Budhi Santoso yang mengungkapkannya pada 30 April 2010.

Publik pun bereaksi. Umumnya menolak anggaran sebesar itu, apalagi kelengkapan fasilitas yang hendak dibangun dinilai terlalu mewah. Toh sejumlah anggota Dewan bersikukuh memperjuangkannya.

Gandung Pardiman dari Fraksi Partai Golkar menyatakan dirinya tak mau mati konyol bila suatu saat gedung Nusantara tempatnya berkantor ambruk.

"Meski berdoa, tapi tetap saja saya tidak mau mati konyol," kata Priyo disambut tawa ratusan anggota dewan dalam sebuah rapat paripurna DPR, 3 Mei 2010.

Di tengah tawa anggota dewan yang belum reda, Gandung melanjutkan interupsi dalam logat Jawa. "Kalau itu rubuh tenan (jatuh beneran), sungguh-sungguh, apa kata dunia," kata Rio, yang lagi-lagi disambut tawa para sejawatnya.

Setelah Gandung, giliran anggota DPR dari Fraksi Demokrat, Roy Suryo menyampaikan interupsi. Dia berharap jika memang benar anggaran yang dibutuhkan adalah Rp 1,8 triliun, maka dana tersebut dimanfaatkan sebaik-baiknya.

Dia mengingatkan bahwa menurut salah satu tim audit dari Kementerian Pekerjaan Umum ketika itu, Gedung Nusantara I tidak miring seperti yang diberitakan.

"Saya baca pernyataan dari Kementerian Pekerjaan Umum hari ini di detikcom, disebutkan, gedung Dewan rusak ringan, hanya butuh injeksi," kata Roy.

Jika benar gedung Nusantara I DPR miring 7 derajat, akan simpangan miring sejauh 8 meter. Dengan simpangan sejauh itu, semestinya gedung tersebut sudah tidak kuat menopang bebannya. (erd/rvk)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT