DetikNews
Rabu 16 Agustus 2017, 20:48 WIB

Eks Manajer DGI Juga Setor Komitmen Fee ke Daerah

Aditya Mardiastuti - detikNews
Eks Manajer DGI Juga Setor Komitmen Fee ke Daerah Muhammad El Idris/Foto: Djulfiawati Manurung
Jakarta - Eks Manajer Marketing PT Duta Graha Indah (DGI) El Idris membenarkan pihaknya sepakat menyetorkan komitmen fee ke mantan Direktur Permai Group Mindo Rosalina Manulang sebesar 20 persen dari proyek pembangunan Wisma Atlet di Sumsel. Hal itu dilakukan supaya PT DGI mendapatkan proyek dari perusahaan Muhammad Nazaruddin.

Dalam sidang di PN Tipikor Jakarta, Jl Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Rabu (16/8/2017), Idris juga mengaku sempat menawar jumlah setoran komitmen fee tersebut. Tak hanya itu, dia juga mengaku menyetorkan 13 persen uang komitmen fee ke Rosa.

"Setelah nego-nego kita tahu persentasenya ke Rosa sudah fix, setelah kita terima uang. Sudah 13 persen termin kedua. Kita tidak minta persetujuan lagi pak," jelas Idris saat bersaksi untuk terdakwa eks Dirut PT DGI Dudung Purwadi.

Dalam sidang sebelumnya, Rosa pernah menyampaikan jika setoran dari Idris berkurang dari kesepakatan awal dan sempat membuat marah Nazaruddin. Idris menyebut jika pihaknya tetap menyetorkan setoran komitmen fee tersebut.

"Rizal Abdullah saya tidak mau melewati Rosa. Yang habis maghrib Rosa datang bersama Rizal Abdullah, pimpronya Wisma Atlet. Feenya nggak mau kalau diurus Rosa, pokoknya langsung dari saya ke Rizal Abdullah. Jadi dua pintu pak melalui Rosa dan rizal," terang Idris.

Rizal Abdullah yang dimaksud ialah Kepala Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga Pemprov Sumatera Selatan. Idris menyebut ia juga menyetorkan sejumlah 5 persen ke kantor Rizal.

"Jadi 18 persen, Rizal Abdulah cs 5 persen, 13 persen Rosa cs," jawabnya.

Majelis hakim kemudian bertanya siapa saja yang dimaksud cs dari Rosa.

"Cs-nya Rosa siapa, apakah Nazaruddin?" tanya hakim.

"Iya grupnya dia. (Saya setor) 5 persen ke daerah. Diserahkan ke masing-masing (grup) . Itu kan ada tim proyek ada beberapa orang, lupa saya (siapa saja orangnya), " kata Idris.

Idris menyebut pembayaran setoran ke Rosa rutin dilakukan. Dia mengaku selalu menyetorkan 13 persen untuk Rosa dari bagian komitmen fee 20 persen.

"Waktu Itu saya sudah tersangka, jadi baru termin pertama termin kedua, jadi proporsional. Pembayaran 13 persen dari 20 persen, kemudian termin kedua 13 persen dari 20 persen," bebernya.

"Persentasenya nggak berubah, 13-20 (persen), termin kedua 13-20 (persen) , termin ketiga 20-13 persen lagi," lanjutnya.

Majelis hakim kemudian bertanya apakah kualitas Wisma Atlet itu tetap sesuai spesifikasi.

"Pembangunan wisma atlet dibangun kualitas bagus, ketika hmpir 20 persen lari ke pihak lain," tanya hakim.

"Mungkin kita lebih efisien," jawab Idris.

Idris menyebut bangunan proyek itu tetap berstandar Standar Nasional Indonesia (SNI) . Hanya saja dia mengaku lebih efisien tanpa menjelaskan detail efisiensinya.

"Yang pasti dia berkualitas karena hitungan berencana standarnya SNI. SNI kan standarnya cukup tebal, dengan efisiensi ini," katanya.

"Apakah efisiensi ini pengurangan bahan," tanya hakim.

"Efisiensi lebih safe, lebih aman," jawab Idris.

Dalam perkara ini, eks Dirut PT DGI Dudung Purwadi didakwa melakukan korupsi proyek pembangunan rumah sakit Universitas Udayana dan proyek Wisma Atlet, Sumatera Selatan. Dudung didakwa terlibat dalam pembagian feeproyek.

Dudung menyetujui pemberian fee kepada Nazaruddin setelah ada kesepakatan PT DGI dengan pihak Universitas Udayana Rp 41, 2 miliar. Pemberian fee tersebut dilakukan kepada PT Anak Negeri sebesar Rp 1 miliar, PT Anugerah Nusantara Rp 2,6 miliar, dan Grup Permai Rp 5 miliar.
(ams/fjp)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed