Menurut pria yang sehari-hari sebagai dosen di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) ini, postingan Buni Yani dalam akun Facebooknya memancing timbulnya mobilisasi massa. Apalagi postingan tersebut mengandung konten tentang agama yang dianggap sakral oleh masyarakat Indonesia.
"Demo itu terjadi ketika apa yang dianggap sakral terusik. Ketika ada yang buat tulisan kurang baik tentu berdampak sejauh mengusik kesakralan. Itu bisa jadi trigger. Efek dari situ mobilisasi massa. Tidak begitu saja hadir tanpa dihadiri trigger," kata Sutrisno dalam persidangan yang digelar di Gedung Arsip, Jalan Seram, Kota Bandung, Jabar, Selasa (15/8/2017).
Menurut Sutrisno saat ini masalah agama memang menjadi hal yang dianggap sakral oleh masyarakat Indonesia. Sehingga, apabila terusik masyarakat akan bereaksi.
Sutrisno menambahkan kasus yang terjadi terkait postingan Buni Yani itu telah membuat masyarakat terpilah. Ada yang menganggap tidak ada masalah dalam postingan Buni Yani, tetapi ada juga yang menganggap postingan itu mengusik masyarakat.
"Kelompok lain menganggap aktor (Ahok) melakukan sesuatu yang konyol maka layak didemo," kata dia. (rvk/rvk)











































