Jangan sampai di antara masyarakat menggunakan cara-cara yang tidak beradab karena itu tidak mencerminkan Pancasila.
"Kita boleh berkelahi mengenai pencapaian, itu boleh. Berantem karya, berantem ilmu, boleh. Bukan berantem fisik," ujar Zulkifli di Convention Hall, Telkom University, Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Senin (14/8/2017).
Zulkifli mengatakan itu saat memberikan kuliah umum Empat Pilar MPR di depan 3.550 mahasiswa baru Telkom University (Tel-U).
Zulkifli mengungkapkan Pancasila merupakan dasar dan ideologi negara yang sudah mantap. Karena itu, dia meminta mahasiswa tidak belajar ideologi negara lain. Pancasila juga merupakan pandangan hidup karena itu harus menjadi perilaku sehari-hari.
"Contoh kalau ada teman yang sakit ditolong, itu namanya Pancasilais. Jangan sampai temannya nggak makan, itu tidak Pancasilais. Kalau sudah Pancasilais, maka menjadi pemersatu bangsa," ungkapnya.
Dalam kesempatan itu, Zulkifli menceritakan masa kecilnya dulu saat masih bersekolah. Untuk meraih jabatannya sekarang, tidak semudah yang dibayangkan. Kuncinya adalah belajar dan berdoa.
"Belajarlah dengan sungguh-sungguh (dan) kalian bisa jadi apa saja. Yang penting dalam hidup adalah ilmu. Rumah penting, tanah penting, tapi itu bisa dijual," kata Zulkifli.
Zulkifli berujar masyarakat bebas memilih menjadi Ketua MPR, DPR, presiden, gubernur, dan pengusaha. Tidak ada aturan atau UU yang melarang untuk menjadi apa pun.
"Kalian (mahasiswa) yang berasal dari seluruh penjuru Tanah Air ini, yang ada di ruangan ini boleh saja (menjadi apa pun). Kita berasal dari anak pedagang, anak petani. Karena itu bukan halangan bagi kita untuk orang besar dan menjadi orang apa pun di republik ini," ujarnya.
Zulkifli mengungkapkan, sejak masih duduk di bangku sekolah dasar (SD), ia harus berjalan kaki sejauh 5 kilometer. Untuk membaca buku, ia juga kesulitan melakukannya karena berasal dari keluarga petani dan pedagang kecil.
Ketua MPR Zulkifli Hasan dalam acara Sosialisasi Empat Pilar MPR di depan mahasiswa Telkom. (Wisma Putra/detikcom) |
Di kampung halaman Zulkifli, belum ada SMP dan SMA. Setelah lulus SD, dia merantau ke Bandar Lampung untuk meneruskan pendidikannya. Zulkifli pun harus menempuh perjalanan sejauh 120 kilometer dari kampung halamannya.
"Saya dimasukkan selevel SMA Pendidikan Guru Agama (PGA) negeri. Kalau lulus, bisa jadi guru agama di SD. Di sini saya ngekos dan tinggal sama orang lain," ungkapnya.
Zulkifli menambahkan ia berasal dari dusun, anak petani, dan pedagang kecil. Saat datang ke Jakarta, dia heran. Zulkifli mengira lampu-lampu gedung di Jakarta bintang. Sebab, di kampungnya tidak ada listrik dan untuk belajar pun harus menggunakan lampu tempel.
"Anak dusun datang ke Jakarta kalau sungguh-sungguh bisa jadi pengusaha yang sukses. Tahun 2004 saya jadi anggota DPR, tahun 2009 jadi Menteri Kehutanan, sampai menjadi Ketua MPR. Tidak pernah bercita-cita jadi ketua MPR," tambahnya.
Zulkifli berharap ribuan mahasiswa terpilih di Tel-U mengantungkan cita-cita setinggi-tingginya dan jangan pernah menyerah. Lulusan PGA seperti dirinya saja bisa menjadi menjadi Ketua MPR, apalagi mereka mahasiswa terpilih.
"Jarang orang dapat kuliah. Kalian termasuk orang-orang terpilih dari seluruh Tanah Air. Belajarlah dengan baik-baik," harapnya.
Cerita Sejarah Pancasila
Zulkifli menjelaskan Pancasila memiliki sejarah panjang. Dari zaman Tjokroaminoto, Budi Utomo, Sumpah Pemuda, hingga lahirlah ormas Islam, Muhamadiyah, NU, Tarbiyah, dan lainnya.
Puncak perjuangan terjadi pada 1 Juni 1945. Saat itu diadakan sidang BPUPKI dan Sukarno berpidato tentang Pancasila. Pada 22 Juni, lahirlah Piagam Jakarta dan itulah yang dipersiapkan untuk ideologi negara.
Rumusan awal Pancasila terbentuk pada 18 Agustus 1945. Pada 1949, UUD diganti menjadi UU Serikat. Lalu, pada 1950, Natsir melakukan mosi integral dan semuanya kembali ke NKRI. Bersamaan dengan itu, lahir UU Sementara yang dikeluarkan perdana menteri.
"Tahun 1959 kembali ke UUD 1945. Perjalanan sudah panjang, Pancasila NKRI, UU, Bhinneka Tunggal Ika sudah final. Kalau ada yang mengubah, berarti membubarkan negara. Dan kalau bertentangan dengan konstitusi, hati-hati bisa ditangkap polisi," jelasnya.
Zulkifli menilai, karena Pancasila, demokrasi di Aceh mulai berkembang. Pelaksanaan pemilu aman dan ekonomi masyarakat pun tumbuh.
Zulkifli menambahkan Bung Hatta pernah mengatakan maju-mundurnya Indonesia tergantung rakyat, karena rakyat adalah jantung Indonesia.
Mahasiswa merupakan agen perubahan, sehingga tidak ada perubahan di negeri ini tanpa mahasiswa. Mahasiswa ikut mempertahankan kemerdekaan dan peran mahasiswa penting dalam menentukan kemajuan bangsa.
"Mahasiswa sebagai agen perubahan tolong publik dicerahkan dengan pemikirannya," pungkas Zulkifli. (nwy/ega)












































Ketua MPR Zulkifli Hasan dalam acara Sosialisasi Empat Pilar MPR di depan mahasiswa Telkom. (Wisma Putra/detikcom)