Menurut Hasto, intoleransi yang terjadi saat ini disebabkan adanya penggelapan sejarah, sehingga masyarakat sekarang tidak lagi memahami makna dan falsafah yang ada dalam Pancasila.
"Kenapa muncul intoleransi, karena ada penggelapan sejarah yang selama ini berlangsung. Jadi kita tidak paham makna dan falsafah tiap sila di Pancasila," ujar Hasto di Balai Kartini, Jakarta Selatan, Senin (14/8/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sukarno pidato singkat sebelum proklamasi, ini digelapkan sejarah. Intinya, hanya bangsa yang berani meletakkan nasibnya di tangan sendiri akan berdiri dengan kuatnya. Alasannya, revolusi kemerdekaan diperjuangkan kaum pemuda Indonesia," ucap Hasto.
"Lebih-lebih rekam jejak kita sebagai bangsa menegaskan 28 Oktober 1928, pemuda Indonesia memfinalkan Sumpah Pemuda," lanjutnya.
Terkait dengan daya saing Indonesia pada perekonomian dunia, Hasto memberi contoh apa yang dilakukan Bupati Banyuwangi Azwar Anas. Hasto mengatakan Anas bisa mengintegrasikan agama dengan nasionalisme dan gotong royong.
"Jadi di sana mampu membawa gotong royong dalam perekonomian. Dengan demikian, kita ada bukti konkret gotong royong dalam pembangunan nyata. Ini optimisme dan Pancasila hadir," tegasnya.
Tak hanya itu, Hasto juga meminta perekonomian Indonesia tidak terlalu kebarat-baratan. Sebab, daya saing harus diciptakan dari politik yang berpihak kepada rakyat. Dia pun memberi contoh kepemimpinan Presiden Jokowi dalam membangun semangat kerakyatan.
"Ini kepemimpinan Pancasilais. Politik yang turun ke bawah. Dengan politik yang berpihak kepada rakyat dan ekonomi kerakyatan adalah modal terbaik," ujarnya.
Terakhir, Hasto berpesan agar para pemuda tidak kehilangan nilai-nilai Pancasila. Sebab, hal tersebutlah yang bisa mewujudkan Indonesia yang berdikari dan berkebudayaan.
"Sebagai pemuda, kalian tidak boleh kehilangan nilai dan daya jual untuk mewujudkan Indonesia berdikari dan berkebudayaan," tuturnya. (bis/nvl)










































