DetikNews
Senin 14 Agustus 2017, 00:36 WIB

Laporan Dari Madinah

Tentang Virus MERS-CoV dan Tips Agar Jemaah Haji Tak Tertular

Triono Wahyu Sudibyo - detikNews
Tentang Virus MERS-CoV dan Tips Agar Jemaah Haji Tak Tertular dr Garinda Almaduta dan dr Ika Nurfarida Sholeh, bicara soal virus MERS-CoV (Triono Wahyu Sudibyo/detikcom)
Madinah - Di tengah musim haji, virus MERS-CoV (Middle East Respiratory Syndrome coronavirus) jadi perbincangan di Arab Saudi. Salah satu sebabnya, pekan lalu ada dua orang meninggal karena virus tersebut. Sebetulnya bagaimana penularan virus itu? Juga bagaimana mencegahnya?

Sesuai namanya, MERS hanya ada di Middle East atau Timur Tengah. Kasus pertama muncul lima tahun lalu. Berdasarkan data World Health Organization (WHO), Minggu (13/8/2017), sejak awal muncul pada September 2012 hingga saat ini, 2.040 orang tertular virus MERS. Sebanyak 712 orang meninggal dan kasus terjadi di 27 negara.

"Inang (virus MERS) pada hewan, khususnya unta. Karena itu, kami imbau jemaah tak berfoto dengan unta," kata dokter spesialis paru Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI), Garinda Almaduta, di KKHI, Minggu (13/8/2017).


Jemaah perlu menghindari kontak langsung dengan unta baik di peternakan maupun persewaan. Juga tidak mengonsumsi produk berkaitan dengan unta. Susu dan urine misalnya.

Garinda mengaku KKHI sudah berkoordinasi dengan rumah sakit dan Kementerian Kesehatan Saudi terkait virus MERS. Sejauh ini penuluran virus tersebut belum mewabah. "Memang ada peningkatan kasus, tapi bukan wabah," jelas dokter di salah satu rumah sakit Malang, Jawa Timur ini.

Belum ada kasus penularan virus dari manusia ke manusia. Sejauh ini hanya dari unta yang terjangkit ke manusia.

Berdasarkan situs Arabnews, pria Saudi berusia 58 tahun dan ekspatriat berusia 50 tahun meninggal karena terinfeksi virus MERS, Kamis (10/8). Juga disebutkan, saat ini ada 9 kasus terkait MERS. Tujuh di Provinsi Al Jouf (barat laut Riyadh), sisanya di Madinah dan wilayah Khamis Mushayt (barat daya Riyadh).

Gejala klinis MERS seperti flu biasa. "Beberapa di antaranya respirasi akut, pilek, nyeri tenggorokan. Dan harus diobservasi dulu apakah punya riwayat kontak dengan unta yang tertular atau tidak," jelas Garinda yang memberikan keterangan bersama Kasubsi KKHI Daker Madinah, Ika Nurfarida Sholeh.

Ika menambahkan sejauh ini jemaah haji Indonesia aman dan tidak terpengaruh penularan virus MERS. Tim KKHI terus melakukan sosialisasi pencegahan penyakit. Tidak hanya MERS, tapi juga penyakit lainnya.

"Kami punya TPP (Tim Promotif dan Preventif) dan TGC (Tim Gerak Cepat). TPP yang berjumlah memberikan penyuluhan ke TKHI (Tim Kesehatan Haji Indonesia) yang ada di kelompok terbang (kloter) dan jemaah secara langsung. Sedangkan TGC bertugas untuk kegawatdaruratan jika ada jemaah yang terindikasi (tertular)," urai Ika.

Pencegahan virus MERS sendiri, menurut Ika, tidak sulit. Yakni rajin cuci tangan, mengenakan masker, makan asupan bergizi, deteksi dini, dan hindari kontak dengan unta. Kekebalan tubuh sangat penting karena itu jemaah harus menjaga kondisi kesehatan.

"Dengan hidup bersih dan sehat, jemaah aman dari penularan virus tersebut," kata dokter Rumah Sakit Jiwa Malang ini.

Lebih dari 110 ribu jemaah haji Indonesia telah berada di Saudi saat ini. Kedatangan dari Tanah Air ke Madinah sudah berakhir, sedangkan kedatangan ke Mekah masih berlangsung. Jemaah dari Madinah akan digeser secara bergelombang ke Mekah hingga Minggu, 20 Agustus. Seluruh jemaah akan berkumpul di Mekah dan Padang Arafah untuk prosesi haji pada akhir Agustus 2017.


(try/dnu)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed