DetikNews
Minggu 13 Agustus 2017, 11:55 WIB

KPAI Imbau Video Kekerasan Anak di Sekolah Tak Disebarluaskan

Noval Dhwinuari Antony - detikNews
KPAI Imbau Video Kekerasan Anak di Sekolah Tak Disebarluaskan Foto: Ilustrasi oleh Edi Wahyono
Jakarta - Beredar video yang menggambarkan kekerasan yang dilakukan sejumlah anak. Video itu menunjukkan sekelompok anak itu memukuli seorang anak yang lebih kecil.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menelusuri video itu dan menduga bila peristiwa itu terjadi di sebuah sekolah berasrama. KPAI pun mengimbau agar video itu tidak disebarluaskan.

"KPAI mengimbau kepada siapa pun netizen yang mendapatkan kiriman video kekerasan tersebut, baik melalui aplikasi Facebook, Twitter, Line maupun WhatsApp mohon untuk menghapus dan tidak menyebarluaskan video tersebut ke pihak lain dengan aplikasi apapun," ujar Komisioner KPAI Bidang Pendidikan Retno Listyarti dalam keterangan tertulis kepada detikcom, Minggu (13/8/2017).

Penyebaran video kekerasan kepada anak dapat berdamapak buruk bagi korban, pelaku maupun anak-anak yang menyaksikan tayangan tersebut. KPAI sendiri telah menerima laporan dan kiriman video kekerasan di sekolah berasrama melalui aplikasi WhatsApp dari masyarakat.

"Dalam video berdurasi 6 menit 53 detik tersebut memperlihatkan seorang anak laki-laki yang diduga siswa di jenjang Sekolah Dasar (SD) mengalami kekerasan fisik dari beberapa orang yang diduga teman-temannya. Karena suasana di video tersebut berada di dalam kamar, maka KPAI menduga itu adalah sekolah berasrama atau boarding school," kata Retno.

Retno mengatakan KPAI sangat prihatin dengan berbagai kasus kekerasan yang terus menerus terjadi di dunia pendidikan yang makin masif dan mengerikan. Sekolah yang seharusnya menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi anak didik justru menjadi tempat yang membahayakan anak-anak.

"KPAI kembali menyoroti lemahnya sistem pengawasan di sekolah-sekolah, termasuk sekolah berasrama yang anak berada di tempat itu 24 jam per hari. Anak yang mengalami kekerasan secara terus menerus akan mengalami depresi, sering sakit, prestasi belajar menurun dan yang paling mengerikan anak bisa memutuskan untuk bunuh diri. Dalam hal ini lembaga pendidikan harus bertanggungjawab, karena orangtua sudah mempercayakan anaknya dititipkan di sekolah tersebut," jelas Retno.

KPAI akan berkoordinasi dengan pihak berwenang untuk melacak lokasi video tersebut. KPAI juga akan melakukan advokasi kepada korban jika lokasi kejadian berada di wilayah hukum Indonesia.

"KPAI juga sudah berkoordinasi dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika untuk memblokir video kekerasan tersebut sehingga tidak bisa diakses lagi," imbuhnya.
(nvl/dhn)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed