DetikNews
Sabtu 12 Agustus 2017, 15:17 WIB

Kronologi Dugaan Penipuan Jeremy Thomas versi Pengacara

Parastiti Kharisma Putri - detikNews
Kronologi Dugaan Penipuan Jeremy Thomas versi Pengacara Jeremy Thomas dan tim pengacara saat jumpa pers (Foto: Parastiti Kharisma Putri/detikcom)
Jakarta - Kuasa hukum Jeremy Thomas, Amin Zakaria menjabarkan kronologi kasus penipuan yang diduga dilakukan oleh kliennya. Amin menyebut ada laporan palsu yang ditudingkan kepada kliennya.

Berikut kronologi dugaan suap yang dialamatkan kepada Jeremy Thomas seperti dijelaskan Amin dalam jumpa pers di Warung Daun, Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (12/8/2017).

13 Februari 2014
Alexander Patrick Morris telah menandatangani kwitansi yang menyebutkan telah menerima dari Jeremy Thomas sejumlah uang sebesar Rp 8 miliar dan menandatangani Kwitansi yang menyebutkan telah menerima dari Jeremy Thomas sejumlah uang sebesar Rp 17 miliar.

14 Februari 2014
Alexander Patrick Morris sendiri telah membuat dan menandatangani surat pernyataan terkait penandatanganan kwitansi sehari sebelumnya.

25 Februari 2014
Alexander Patrick Morris menandatangani persetujuan atas perincian pengeluaran biaya-biaya yang dananya disetujui pada tanggal 13 Februari.

Saat melaporkan Jeremy ke Kepolisian, status Alexander merupakan terdakwa penipuan. Mengacu pada putusan PT JAKARTA Nomor 48/PID/2015/PT DKI Tahun 2015 Alexander dinyatakan dipidana penjara selama 4 tahun.

"Sehingga kualitas pelapor sebagai saksi dalam dugaan tindak pidana yang sama tentu seharusnya secara hukum dikesampingkan," ujar Amin.


Amin menegaskan, kasus yang menjerat Jeremy tak memenuhi unsur penipuan. Bahkan meski sekarang ditangani Polda Metro Jaya namun kasus ini telah di-SP3 oleh Polda Bali.

"Bahwa tidak adanya dugaan tindak pidana penipuan dalam perkara tersebut juga telah digelar oleh Biro wassidik Bareskrim Mabes Polri dan dikuatkan oleh Polda Bali tertanggal 12 Agustus 2016 melalui Surat ketetapan Nomor tentang penghentian penyidikan, karena bukan merupakan tindak pidana. Sehingga untuk itu pun kami mempertimbangkan untuk melaporkan balik dugaan adanya laporan palsu," tutur Amin.
(rna/rvk)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed