DetikNews
2017/08/11 17:25:07 WIB

Tapal Batas

Resep Hidup Damai dari Tanah Dayak: Tembawang

Danu Damarjati, Kurnia Yustiana - detikNews
Halaman 1 dari 3
Resep Hidup Damai dari Tanah Dayak: Tembawang Gawai Dayak Sintang (Foto: Rachman Haryanto/ detikcom)
Sanggau - Siang hari di tengah keramaian pesta Dayak, empat perempuan berkerudung sedang jalan-jalan. Langkah mereka terhenti di salah satu sudut jalan.

Liswarni (41) dan empat perempuan rekannya yang lebih muda sedang berada di Gawai Dayak Sintang, di kompleks Stadion Baning, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat. Di hari Jumat (14/7/2017) siang, cahaya matahari cukup membuat orang memicingkan mata.

Mumpung sedang ada Gawai Dayak, apalagi sudah lima tahun tak digelar di Sintang, Liswarni menyempatkan diri mengunjungi gelaran ini. Dia berhenti di sebuah stan kerajinan khas Dayak. Sejumlah gelang manik-manik dan anyaman dia jajal, teman-temannya juga begitu. Sebagai orang Melayu Kalimantan Barat, Liswarni tak ragu-ragu mengunjungi Gawai Dayak, malah antusias.

"Saya menganggap Dayak sebagai saudara," kata Liswarni.

Liswari dan kawan-kawannya yang berjilbab di Gawai Dayak / Liswari dan kawan-kawannya yang berjilbab di Gawai Dayak / Foto: Rachman Haryanto/detikcom


Rasa persaudaraan ini dipercayainya mampu menjaga keamanan di Sintang, Kabupaten yang punya wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia ini. Isu-isu bernuansa kebencian antarkelompok tak mempan untuk memengaruhi orang-orang.

Malam harinya, ada penampilan musik dari Forum Masyarakat Batak Kabupaten Sintang di panggung Gawai Dayak. Semua kelompok masyarakat dipersilakan untuk menikmati suasana pesta syukuran ini, bahkan juga masyarakat Dayak dari negara tetangga, Malaysia. Nilai toleransi memang ditonjolkan di acara ini.

"Gawai Dayak ini mengangkat tema toleransi dan keberagaman. Ini menunjukkan bahwa kita masyarakat Dayak ingin menyatakan toleransi kita kepada seluruh masyarakat yang beragam," kata Ketua Dewan Adat Dayak (DAD) Sintang, Jeffray Edward, kepada detikcom di lokasi acara.

Resep Hidup Damai dari Tanah Dayak: TembawangFoto: Ketua Dewan Adat Dayak (DAD) Kabupaten Sintang, Jeffray Edward (Danu Damarjati/detikcom)


Jeffray mengajak seluruh masyarakat agar semua warga bisa menjaga keberagaman dan tak mudah terprovokasi upaya-upaya memperkeruh suasana. Sejauh ini, toleransi di sini dinyatakannya telah berjalan baik.

Kabupaten tetangga Sintang, yakni Kabupaten Sanggau yang juga menjadi tapal batas Indonesia-Malaysia, juga punya masyarakat majemuk. Yang dominan memang masyarakat Dayak dan Melayu. Persaudaraan antardua suku besar ini tergambar lewat legenda Daranante, putri Melayu yang menikah dengan pria Dayak bernama Babai Cinga. Anak turun Daranante dan Babai Cinga menjadi penguasa Kerajaan Sanggau.

"Sebenarnya kita satu asal. Dulu zaman kerajaan ada perkawinan campuran Etnis Dayak dan Etnis Melayu," kata Bupati Sanggau, Paolus Hadi, di Rumah Dinas, Kelurahan Ilir Kota, Kecamatan Kapuas, Sanggau, Kamis (13/7/2017).

Selain itu, ada pula masyarakat Tionghoa dan Jawa. Agama penduduk Sanggau juga beragam, ada Katolik, Muslim, Protestan, Budha, hingga Konghucu. Namun ribut-ribut soal agama tak pernah terjadi di sini meski sempat terasa ada isu-isu provokatif.

Beda Agama, Satu Tembawang

Penggolongan suku dan agama juga tak selalu simetris. Tak semua orang Muslim adalah Melayu, karena banyak juga orang Dayak yang Muslim. Orang Dayak di Kalimantan Barat menyebut saudaranya yang menjadi Muslim dengan istilah 'senganan'.

Meski berbeda keimanan, baik Dayak yang Nasrani maupun Dayak yang Muslim tetap mengakui satu asal-usul kekerabatan yang sama. Kekerabatan itu terwujud dalam konsep Tembawang. Tembawang ini adalah konsep wanatani (agroforestri) khas Dayak yang memuat kearifan tentang asal-usul kekerabatan.

"Tembawang itu salah satu pemersatu," kata Paolus mengucapkan soal 'resep perdamaian' ini.

Bupati Sanggau, Paolus Hadi / Bupati Sanggau, Paolus Hadi / Foto: Rachman Haryanto


Setiap kerabat mempunyai Tembawang yang dulu secara bersama-sama pernah ditanami berbagai macam buah-buahan, mulai dari durian, entawak, rambutan, tengkawang, karet, dan sebagainya. Tembawang itu tetap dikenang sebagai milik anak-cucu kerabat pemiliknya meski sudah ditinggal pergi berpencar. Suatu saat bila pepohonan di Tembawang berbuah, maka kerabat bisa mendapat bagian atau berkumpul kembali untuk mengambil hasil. "Bisa ratusan dan ribuan orang yang mempunyai satu Tembawang. Tembawang itu pengikat," kata Paolus.

Tembawang menjadi simbol kerukunan. Kebersamaan warga Sanggau tak mudah terusik. "Mungkin karena sudah merasa enak hidup bersama tinggal di daerah ini. Kalau generasi-generasi sebelumnya, hidup dari kecil itu sudah bersama. Yang kita waspadai itu penyusup saja. Kalau orang sini asli, tidak akan memprovokasi. Dan ini sudah komitmen kita bersama," tuturnya.

Perjalanan ke PLTMH / Perjalanan ke PLTMH / Foto: Rachman Haryanto/detikcom

Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed