MPR: Medsos Harus Produktif dan Berdampak Baik untuk Rakyat

Niken Widya Yunita - detikNews
Jumat, 11 Agu 2017 11:52 WIB
Foto: Sekjen MPR Ma'ruf Cahyono (Dok. MPR)
Jakarta - Masyarakat dan bangsa Indonesia dihadapkan pada berbagai persoalan terkait perbedaan beberapa bulan terakhir ini terutama usai Pilkada DKI Jakarta. Perdebatan bahkan sampai konflik keras terutama di ranah media sosial (medsos) antar elit politik sampai antar rakyat di warung kopi mengerucut pada persoalan perbedaan atau SARA.

Berbagai elemen masyarakat tentu sangat mengkhawatirkan hal tersebut menjadi meluas. Bahkan berpotensi memecah persatuan bangsa yang sudah susah payah dibangun para founding fathers bangsa Indonesia.

Sekretaris Jenderal MPR Ma'ruf Cahyono menilai, semestinya persoalan perbedaan tidak perlu dipermasalahkan lagi. Masyarakat Indonesia memang sangat heterogen atau sangat beragam. Bahkan keberagaman itulah yang membentuk negara Indonesia. Keberagaman merupakan kekayaan bangsa dan menjadi bagian tidak terpisahkan dalam sejarah dan proses perjalanan bangsa Indonesia.

"Persoalan intoleransi, radikalisme yang muncul pastinya disebabkan faktor tertentu dan ada pemicu memunculkannya. Faktor tersebut antara lain cara pandang soal kesenjangan dan ketidakadilan oleh sebagian kelompok," kata Ma'ruf dalam keterangan tertulis dari MPR, Jumat (11/8/2017).

Ma'ruf mengatakan itu saat berbincang dengan Kombes Yoyok Subagyo dari Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisan (PTIK), di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (10/8/2017).

Pemahaman soal perbedaan atau keberagaman, lanjut Ma'ruf, semestinya diseleraskan yakni, perbedaan bukan persoalan satu pihak benar dan yang lain salah. Perbedaan atau keberagaman merupakan sesuatu yang alamiah dan harus sama-sama dipahami betul bahwa perbedaan itu sebagai kondisi yang natural dalam masyarakat.

Di sisi lain, Ma'ruf juga memperhatikan fenomena medsos yang sangat bebas sekarang ini dan mampu mewarnai bahkan mempengaruhi setiap peristiwa di tengah masyarakat.

"Medsos sudah menjadi instrumen publik dan instrumen negara untuk melakukan 'engineering' tujuan negara. Tujuan negara ini bersifat ideologis, regulatif. Seharusnya medsos menjadi jembatan pada masyarakat untuk menciptakan suasana sesuai ideologi bangsa, dan konstitusi," imbuhnya.

Ma'ruf menegaskan, medsos harus produktif bukan kontra produktif. Hal tersebut akan membantu upaya negara dalam menciptakan satu kondisi yang orientasinya kepada kesejahteraan masyarakat.

"Dampak jangka pendek dan jangka panjang medsos bisa sangat luar biasa. Sebab bisa mengganggu aktivitas secara nasional bila pemberitaan medsos simpang siur dan membentuk pola pikir. Kalangan generasi muda yakni satu elemen bangsa yang sangat rentan terpengaruh dan akan berdampak pada perilaku mereka," katanya.

Ini sangat disayangkan, medsos jangan seperti itu, tapi di sisi lain medsos akan berdampak positif, bila berkampanye positif pula untuk masyarakat," imbuhnya.

Medsos, lanjut Ma'ruf, sekali lagi bisa menjadi kontraproduktif manakala tidak dipergunakan dengan baik. Hal itu sangat disayangkan, di tengah upaya pembangunan negara dan dalam arti luas juga pembangunan karakter bangsa.

"Sudah saatnya ada instrumen untuk menjembatani dari negara kepada masyarakat yang harus dipayungi dengan kebijakan tepat sesuai kondisi masyarakat dan kondisi negara terus menerus. Ini cara merawat konstitusi. Kalau di MPR, kami sebut empat pilar," katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Ma'ruf juga membahas seputar UU ITE. UU ITE merupakan upaya positif dari pemerintah, tentang pembenahan teknologi, meskipun dalam perjalanannya beberapa elemen masyarakat masih melihat beberapa kendala atau kekurangan.

"Tapi, menurut saya dalam perjalanannya, bila ada yang kurang bisa diperbaiki. Sejauh ini baik-baik saja, contohnya untuk menjaring pelaku radikalisme sejauh ini terlihat efektif. Jika ada sistem, aturan dan lain-lain yang dirasa belum sempurna dan terkait kebutuhan masyarakat, maka harus berubah, dan disesuaikan," tandas Ma'ruf.⁠⁠⁠⁠

(nwy/ega)