Berkunjung ke Vihara Bahtera Bhakti yang Tertua di Jakarta

Aditya Mardiastuti - detikNews
Rabu, 09 Agu 2017 19:56 WIB
Foto: Melihat Umat Khonghucu dan Buddha Ibadah di Vihara Tertua di Jakarta (Dita-detikcom)
Jakarta - Vihara Bahtera Bhakti di Ancol, Jakarta Utara, merupakan salah satu destinasi 'Wisata Rumah Ibadah' yang digelar Komunitas Bhinneka. Di vihara tertua di Jakarta ini para siswa diajak mengenal sekilas agama Khonghucu dan juga Buddha.

Ratusan siswa peserta Wisata Rumah Ibadah ini disambut oleh Humas vihara Bahtera Bhakti Aprianto Bismoko, Ketua Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (Matakin) Liem Liliany Lontoh dan juga rohaniwan Khonghucu WS Lie Suprijadi. Lily menjelaskan mengenai salam umat Khonghucu yaitu 'Wei De Dong Tian' yang bermakna hanya dalam kebajikan Tuhan berkenan.

"Wei de dong tian artinya hanya di dalam kebajikan Tuhan berkenan. Tangan kiri menutupi tangan kanan. Tangan kiri melambangkan ayah, tangan kanan melambangkan ibu dan tangan kiri menutupi ibu. Berbuah secara biologis menjadi ren atau manusia," kata Lily di Vihara Bahtera Bhakti, Jl Pantai Sanur V, Pademangan, Ancol, Jakarta Utara, Rabu (9/8/2017).

Lily menjelaskan dalam kepercayaannya manusia punya delapan kewajiban dari cinta kasih hingga tahu malu. Dalam Khonghucu juga diajarkan mengenai watak sejati manusia ysng berasal dari Tuhan yaitu kebajikan, cinta kasih, kebenaran hingga kebijaksanaan.

"Sebagai manusia kita wajib menjalankan 8 kebajikan cinta kasih, rendah hati sampai kita harus tahu malu. Khonghucu itu harus tahu memiliki watak sejati yang dikaruniai Tuhan, berupa cinta kasih, kebenaran, kesusilaan, kebijaksanaan," paparnya.

Dia juga menjelaskan singkat mengenai dewa dan dewi yang diteladani umat Khonghucu di Vihara Bahtera Bhakti. Yaitu Dewa Kwan Kong dan Dewi Kwan Im di mana masing-masing memiliki teladan yang berbeda.

"Dengan kita sembayang di Kwan Kong atau Kwan Seng Tee Koen diharapkan kita punya rasa cinta kasih yang besar dan tulus ke hadapan sesama. Jadi kalau di pengadilan negeri umat Khonghucu ditaruhnya arca Kwan Kong untuk bersumpah, diharapkan tidak bohong, jujur dan memperjuangkan kebenaran," jelas Lily.


Melihat Umat Khonghucu dan Buddha Ibadah di Vihara Tertua di JakartaFoto: Melihat Umat Khonghucu dan Buddha Ibadah di Vihara Tertua di Jakarta (Dita-detikcom)


"Kemudian Dewi Kwan Im itu dewi welas asih. Jadi kita sembahyang dengan Kwan Im untuk rasa cinta kasih nilai dalam diri," sambungnya.

Dia menambahkan sebagai umat Khonghucu diwajibkan menebarkan benih kebajikan pada sesama. Dia mengaku bersyukur tinggal di Indonesia dan menjadi bagian dari keberagaman.

"Kita sebagai umat manusia mengembangkan benih kebajikan kepada kita semua. Khonghucu itu universal, siapapun bisa, jadi bukan Tionghoa. Kita harus saling mengembangkan kita punya benih-benih kebajikan, perasaan cinta kasih," ujarnya.

"Pas melihat adik jatuh langsung otomatis meraih, menolong. Kalau mau menolong kan enggak tanya dulu agama apa, kalau memang dalam hati kita ini semua bersaudara. Kita bersyukur Indonesia sangat kaya, banyak budayanya, suku, bahasanya, meski berbeda tetap satu. Bersatu dalam keberagaman," ujarnya.

Sementara itu, humas vihara Apri menjelaskan sekilas mengenai sejarah vihara tersebut. Apri menyebut vihara ini dibangun tahun 1950 dan memiliki persembahyangan umat Buddha, Khonghucu dan Hindu.

"Sekarang (vihara) umurnya 67 tahun. Dikukuhkan dengan satu papan pemda setempat, 1972 kita masuk cagar budaya," jelasnya.

Tak lama para siswa kemudian diajak berkeliling di kawasan vihara. Beberapa peserta mengaku baru mengenal agama Khonghucu dan pertama kali mendatangi vihara.

"Kalau vihara tadi belajar tentang kebersamaan dan saling menghargai. Tapi masih belum puas sih soalnya belum tahu tentang dewa-dewa dan ajarannya," kata siswa kelas XI SMAN 20 Jonathan.

Hal senada juga disampaikan Muhammad Nabilukman teman sekelas Jonathan. Dia mengaku lebih tahu tentang agama Khonghucu dan baru tahu tentang ajaran Buddha.

"Ya tentang agama Konghuchu jadi tahu pemahaman agamanya sama tempat ibadahnya. Kalau Khonghucu tadi ada dewi Kwan Im sama dewa Kwan Kong," katanya.

"Kalau Buddha dijelasin soal 3 Buddha. Satu yang katanya ada di dunia, Buddha di surga barat, satunya Buddha tapi nggak mau diakui," sambung Nabil.

Saat berada di depan ruangan sembahyang Dewi Kwan Im, para siswa juga antusias mendengarkan penjelasan dari rohaniwan Khonghucu WS Lie Suprijadi. Salah satu siswa bertanya hari raya keagamaan umat Khonghucu.

"Khonghucu hari besarnya apa pak?" tanya siswa berambut ikal itu.

"Ada, hari besar Konghuchu itu imlek (Kong Zi Li) , Cap Go Meh, Keng Thi Kong, Jing He Ping sembahyang kepada leluhur," jelas Pak Lie.


Melihat Umat Khonghucu dan Buddha Ibadah di Vihara Tertua di JakartaFoto: Melihat Umat Khonghucu dan Buddha Ibadah di Vihara Tertua di Jakarta (Dita-detikcom)


Ada juga yang bertanya tentang penggunaan dupa dan Pa Pwe yang biasa digunakan untuk ramalan.

"Pak saya kan kalau ibadah itu pakai hio terus kalau yang ucuk-ucuk itu gunanya untuk apa," tanya siswi berambut panjang dan berkacamata itu.

"Oh itu namanya Pa Pwe, untuk baca diri kita melalui apa yang di depan kita, apa yang kita puja Kwan Im, Kwan Kong. Dia kan nggak bisa berbicara nanti kita diberikan penjelasan," jawab Pak Lie.

Ada juga yang kaget ketika mendengar tambur dibunyikan. Siswi tersebut mengaku takut jika nanti didatangi barongsai.

"Kalau kita itu namanya tambur, di masjid beduk. Barongsai itu hewan kunci, kalau nabi Khonghucu malah didatangi ini seneng karena artinya hoki. Makanya kalau ada barongsai orang Tionghoa seneng," jelas Pak Lie.

"Tapi nanti ada barongsai nggak pak, " ujar siswi itu polos.

"Oh nggak, kalau barongsai itu pas hari besar atau hari raya aja," jelasnya.

Usai mengunjungi Vihara Bahtera Bhakti, Wisata Rumah Ibadah dilanjutkan mengunjungi Pura Agung Adhitya Jaya. (ams/rvk)