Ratusan siswa sekolah menengah baik negeri maupun swasta di Jakarta mengikuti 'Wisata Rumah Ibadah'. Para siswa diajak mengunjungi rumah ibadah enam agama yang ada di DKI. Wisata Rumah Ibadah ini diselenggarakan oleh Komunitas Bhinneka dan diikuti peserta dari usia 15-18 tahun. Di Masjid Istiqlal, mereka melakukan tanya jawab yang seru.
"Pak apakah Masjid Istiqlal dibuka untuk iktikaf saat bulan puasa?" tanya salah satu peserta.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak mau kalah, salah satu pembina juga melontarkan pertanyaan tentang makna ta'aruf. Pertanyaan ini mengundang tawa dari para peserta.
"Ta'aruf itu bahasa Indonesianya saling mengenal. Di dalam ajaran agama Islam, yang didahulukan menikah akad setelah itu silahkan bertaaruf. Kalau serius langsung lamar, akad, bertaaruf, di Monas, Ancol silahkan. Dalam ayat Alquran Tuhan menciptakan suku bangsa untuk saling berkenalan," jawab Abu.
Para siswa kemudian diajak berkeliling dan melihat salah satu beduk raksasa yang biasa dipukul oleh tamu negara. Abu juga menjelaskan sekilas mengenai makna dan simbol adanya beduk di masjid-masjid.
"Beduk ini bukan untuk memanggil orang salat. Beduk adalah tandanya waktu salat sudah masuk. Manggil orang salat pakai azan. Beduk ini tidak ada kaitannya dengan agama Islam. Ini tradisi nenek moyang kita yang diadopsi umat islam," jelasnya.
"Beduk kenang-kenangan dari Pak Soeharto. Terbuat dari satu pohon meranti, dibuat 1972. Kulitnya sapi jantan dan di belakang sapi betina. Filosofinya bahwasanya kita hidup di dunia berpasang-pasangan. Begitulah kehidupan," sambungnya.
Dia juga menjelaskan masuknya Islam ke Indonesia melalui jalur perdagangan berbeda dengan proses masuknya Islam di negara Eropa. Dengan cara humanis itulah agama Islam mudah dipahami nenek moyang bangsa Indonesia.
"Islam masuk ke indonesia bukan melalui jalur perang melalui persagangan, ilmu pengetahuan, budaya, dan lain-lain. Penyebar agama Islam yang datang ke Indonesia sangat bijak tidak saling menyalah-nyalahkan. Ini haram, ini salah, berdakwah tidak dengan cara itu," bebernya.
"Beda dengan Islam yang masuk ke Eropa. Islam masuk ke Spanyol masuk melalui jalur perang. Islam hanya bertahan 400 tahun, raja Islam wafat, nggak ada bekasnya, karena dia masuk jalur militer, habis, lari ke Maroko, Tunisia, Aljazair," sambung Abu.
Menurut Abu dengan pendekatan kultural, agama Islam di Indonesia mudah dipahami dan bisa bertahan hingga saat ini.
"Di Indonesia agama Islam masuk ke budaya Indonesia sehingga sudah berapa ratus tahun bertahan. Itulah kearifan penyebar agama Islam di Indonesia," katanya.
Putri Stefani Fransiska siswi kelas XI SMK Fransiskus juga mengaku senang dengan kegiatan ini. Dia merasa mendapat pengetahuan tentang tatacara umat Islam beribadah.
"Jadi lebih tahu umat Islam (beribadah). Saya kan banyak teman Islam jadi tahu cara mereka ibadah. Lebih menghargai lagi, banyak pengetahuan. Yang sudah tahu jadi makin tahu," ucap Putri.
Usai mengunjungi Masjid Istiqlal, para siswa ini akan diajak mengunjungi Vihara Bahtera Bhakti dan Pura Agung Adhitya Jaya. (ams/nvl)











































