Foto: Aditya Mardiastuti/detikcom |
Setelah mengunjungi Gereja Kristen Immanuel dan Gereja Katedral, para siswa peserta Wisata Rumah Ibadah melanjutkan kegiatan dengan mengunjungi Masjid Istiqlal. Tak hanya menunaikan salat zuhur, para peserta juga diajak mengenal sekilas tentang sejarah dibangunnya Masjid Istiqlal dan masuknya Islam ke Nusantara.
Para siswa terlihat antusias saat mendengarkan penjelasan Kepala Protokol dan Pelayanan Wisata Masjid Istiqlal, Abu Hurairah Abd Salam. Abu menjelaskan Istiqlal dalam bahasa Arab memiliki arti 'merdeka'.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Foto: Aditya Mardiastuti/detikcom |
Abu menjelaskan pembangunan Masjid Istiqlal merupakan ide dari banyak pihak. Sedangkan soal lokasi Gereja Katedral yang berhadapan dengan Masjid Istiqlal dan dekat dengan Gereja Kristen Immanuel merupakan ide Presiden RI pertama Sukarno.
"Ide mendirikan Masjid Istiqlal di sini yang hanya beberapa meter dari Katedral dan Immanuel itu ide murni Presiden Sukarno. Alasannya, Bung Karno sadar benar bahwasanya bangsa Indonesia ditakdirkan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa menganut beragam agama. Itu merupakan kehendak Tuhan, ciptaan Tuhan," urainya.
BACA JUGA: Belajar Toleransi, Ratusan Siswa Wisata ke 6 Rumah Ibadah di DKI
"Nggak ada manusia yang ikut campur. Jangan ada manusia yang protes atau menghina keyakinan lain. Itu ciptaan Tuhan dan bukan pilihan kita. Makanya jangan menghina yang berbeda dengan kita," pesannya.
Abu menambahkan, dengan kesadaran itu, Bung Karno membangun Masjid Istiqlal berdekatan dengan tempat beribadah umat Kristen dan Katolik. Dengan begitu, antarumat beragama bisa saling menghormati dan menyayangi.
"Kata Bung Karno, manusia yang berbeda nggak bisa agamanya disatukan, tidak mungkin. Yang mungkin kita lakukan penduduk bangsa Indonesia yang menganut agama ini bisa saling menghargai, bisa saling menghormati. Maka dibuatlah Masjid Istiqlal berdekatan dengan Katedral, agar saling mengenal, dan timbul perhatian, kasih sayang, dan timbul rasa saling menyayangi," ucapnya.
Tak hanya itu, Abu juga mencontohkan, saat hari keagamaan, umat Islam dan Katolik saling membantu. Misalnya saja soal lahan parkir dan menjaga keamanan. Dia kemudian menjelaskan sekilas sejarah masjid terbesar ketiga di dunia ini. Dia menyebut pembangunan masjid ini memakan waktu 17 tahun, dari 1961 hingga 1978, dan diresmikan di era Presiden RI ke-2 Soeharto.
"Kenapa lama, karena saat kita merdeka, keadaan ekonomi dan politik belum stabil. Terjadi peristiwa politik dahsyat G30S PKI. Arsitek Masjid Istiqlal adalah anak Pendeta Friedrich Silaban. Berkantor di masjid dari tahun 1961-1964. Jadi aneh seorang Kristen fanatik berkantor di masjid," jelas Abu, yang disambut tawa para siswa.
Dia menyebut konsep bangunan Masjid Istiqlal adalah Ketuhanan dan tidak ada pintu dan jendela yang dibangun di masjid. Konsep ini menunjukkan Masjid Istiqlal yang terbuka bagi semua kalangan, baik dari etnis maupun agama.
"Konsepnya Ketuhanan tidak ada pintu, tidak ada jendela. Bahwa masjid ini boleh dikunjungi siapa pun, etnis, agama mana pun juga. Masjid tidak memakai dari kayu, tidak ada genteng dan dari bahan besi stainless, supaya bertahan lama. Dari 1961 sampai sekarang masjid ini belum pernah direnovasi," ujar Abu bangga.
Dia menyebut Masjid Istiqlal bukan hanya kebanggaan umat Islam, tapi juga bangsa Indonesia. Itu lantaran masjid tersebut merupakan masjid terbesar di Asia Tenggara dan terbesar ketiga di dunia dengan kapasitas 200 ribu orang.
"Jadi kita berbangga, arsiteknya orang asli Indonesia. Tidak pakai kayu dan, asal tahu saja, kubah besar ada 2 kaligrafi itu oleh bule dinamakan Silaban Dome dipatenkan orang Jerman," kata Abu merujuk kubah yang ada di Masjid Istiqlal.
Dia menambahkan kubah yang dijuluki Silaban Dome itu memiliki simbol hari kemerdekaan bangsa Indonesia. Masjid Istiqlal juga hanya punya satu menara dengan tinggi 6.666 sentimeter.
"Simbol kepercayaan muslim 1, tingginya 6.666 sentimeter, yang merupakan simbol jumlah ayat di Alquran. Setiap milad Istiqlal, kami dibantu mapala lintas agama membersihkan kisi-kisi. Mudah-mudahan alumni wisata rumah ibadah juga bisa membantu tinggal kontak kami, masak alumni 212 aja yang ada alumninya," candanya.
Sementara itu, salah satu siswa kelas XII SMAN 25, Fian, mengaku mendapat banyak pengetahuan. Dia menyebut beberapa hal sudah diketahuinya, namun ada juga yang baru dipetiknya.
"Saya Islam, beberapa pengetahuan baru seperti kubah, ketinggian bulan sabit sama tinggi menara. Selain itu, sudah tahu, bagus sih kegiatannya biar saya sangat menghargai toleransi beragama tanpa memandang SARA merasa sama di hukum yang berlaku," ucapnya.
Kemudian Putri Stefani Fransiska, siswi kelas XI SMK Fransiskus, juga mengaku senang atas kegiatan ini. Dia merasa mendapat pengetahuan tentang tata cara umat Islam beribadah.
"Jadi lebih tahu umat Islam (beribadah). Saya kan banyak teman Islam, jadi tahu cara mereka ibadah. Lebih menghargai lagi, banyak pengetahuan. Yang sudah tahu jadi makin tahu," ucap Putri. (ams/fay)












































Foto: Aditya Mardiastuti/detikcom
Foto: Aditya Mardiastuti/detikcom