Rusadi: 'Pemberesan' Masalah KPU Ditawarkan Mubari

Rusadi: 'Pemberesan' Masalah KPU Ditawarkan Mubari

- detikNews
Rabu, 11 Mei 2005 15:42 WIB
Jakarta - Mubari bisa jadi merupakan kunci kasus suap dan korupsi di Komisi Pemilihan Umum (KPU). Staf Sekjen KPU itulah yang menawari anggota KPU untuk 'membereskan' masalahnya dalam menghadapi audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).Anggota KPU yang menjabat Ketua Panitia Pengadaan Tinta Sidik Jari Pemilu Rusadi Kantaprawira mengaku pernah ditawari Mubari untuk 'membereskan' laporan tentang pengadaan tinta. Untuk meyakinkan Rusadi, Mubari mengaku telah membantu 'membereskan' laporan anggota KPU lainnya."Saya bertemu dengan Pak Mubari di koridor KPU. Dia menawarkan untuk membereskan laporan mengenai item tinta. Waktu itu Pak Mubari bilang, Pak gimana masalah tinta? Saya bisa bantu untuk membereskannya. Yang lain-lain sudah saya bantu untuk membereskan," cerita Rusadi saat jumpa pers di kantor KPU, Jl. Diponegoro, Jakarta, Rabu (11/5/2005). Rusadi menolak tawaran Mubari tersebut karena merasa tidak ada yang salah dalam pengadaan tinta pemilu yang dipimpinnya. Rusadi mengaku mampu mempertanggungjawabkan pengadaan tinta yang pernah diprotes karena cepat luntur itu. "Selama ini saya sangat jarang berhubungan langsung baik dengan Wasekjen Pak Sussongko apalagi Pak Mubari. Jadi saya tidak pernah melakukan upaya untuk membereskan laporan itu. Karena saya tidak merasa ada penyimpangan dan itu semua ada penjelasannya," kata Rusadi. Saat ditanyakan apakah menerima aliran dana taktis KPU, Rusadi memilih tidak berkomentar. Ia beralasan takut komentarnya merugikan anggota KPU lainnya yang juga merupakan teman-temannya sendiri. "Mereka kan teman-teman saya. Saya tak mau menguntungkan diri sendiri. Itu kan sudah masalah hukum," ucapnya. Rusadi kemudian membantah menerima suap dari rekanan KPU yang mengikuti tender pengadaan tinta. Bahkan ia mengaku pernah mengancam mengundurkan diri saat Ketua KPU Nazaruddin Syamsuddin membujuknya agar dilakukan tender ulang pengadaan tinta.Nazar meminta diadakan tender ulang karena ada perusahaan dari luar negeri yang menawarkan harga lebih murah. "Pada saat itu saya memutuskan apabila dilakukan re-tender saya akan mengundurkan diri. Itu sudah saya ajukan. Tapi Pak Nazar di depan Kepala Biro membujuk saya untuk tidak mengundurkan diri," jelasnya.Namun wajah Rusadi langsung keruh saat ditanya bagaimana porsi Nazaruddin dalam mengizinkan setiap pengeluaran keuangan di tubuh KPU. Padahal di awal-awal jumpa pers, Rusadi kelihatan santai. Tiba-tiba dia kelihatan bingung saat dicecar pertanyaan itu. Dia diam sejenak baru berkata, "Saya blank. Tidak tahu." (iy/)


Berita Terkait