DetikNews
Senin 07 Agustus 2017, 17:51 WIB

Ada Calon Hakim Agung yang Miliki Harta Kurang dari Rp 400 Juta

Andi Saputra - detikNews
Ada Calon Hakim Agung yang Miliki Harta Kurang dari Rp 400 Juta Ali Hanafiah (Foto: dok. KY)
Jakarta - Komisi Yudisial sedang menggodok 14 nama calon hakim agung untuk dipilih menjadi hakim agung. Nanti nama yang dipilih itu akan disodorkan ke DPR untuk disetujui duduk di kursi Mahkamah Agung.

Berdasarkan data acch.kpk.go.id yang dikutip detikcom, Senin (7/8/2017), dari 14 nama calon hakim agung, Ali Hanafiah Selian memiliki harta paling sedikit. Dalam LHKPN yang disetorkan ke KPK, dosen Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta, itu memiliki sebuah rumah dan kendaraan pribadi.

Rumah yang dimaksud terletak di Depok seharga Rp 308 juta. Adapun kendaraan yang ia tumpangi senilai Rp 242 juta, yang terdiri atas Toyota Rush 2013 seharga Rp 215 juta dan dua sepeda motor.

Ditambah dengan harta lainnya, Ali total memiliki harta Rp 655 juta. Tapi Ali memiliki utang Rp 265 juta, sehingga harta riil Ali sebesar Rp 390 juta.

Lalu bagaimana dengan kompetensinya? Dalam wawancara terbuka, Ali kelabakan dicecar panelis soal asas-asas hukum perdata. Padahal ia sehari-hari mengajar hukum bisnis di UIN.

"Pernah baca Sema 10/2009?" tanya panelis M Saleh.

"SEMA 10/2009 itu mungkin tidak boleh mengajukan PK lebih dari satu kali," jawab Ali ragu.

"Jangan kira-kira. Pertanyaan lainnya, tidak ada pailit tanpa utang, betul?" tanya Saleh.

"Ada pihak yang punya piutang terhadap perusahaan," jawab Ali.

"UU Kepailitan, ada pengertian utang. Apa itu?" cecar Saleh.

Ali menjawab utang adalah kewajiban-kewajiban kepada pihak lain. Saleh tidak puas dan meminta Ali membaca lagi UU Kepailitan.

"Tahu asas actio paulina?" tanya Saleh.

"Kesepakatan para pihak jadi UU," jawab Ali ragu.

Jawaban itu membuat Saleh kecewa. Sebab, actio pauliana adalah suatu upaya hukum untuk menuntut pembatalan perbuatan-perbuatan hukum debitor yang merugikan kreditornya, misalnya hibah yang sengaja dilakukan debitor sebelum dirinya dinyatakan pailit yang mengurangi/membuat mustahil pemenuhan pembayaran utang-utangnya.

"Mungkin bukan itu maksudnya," kata Saleh kecewa.

Namun Saleh masih berharap Ali bisa menjawab pertanyaan lain di bidang hak kekayaan intelektual. Saleh bertanya apa maksud 'persamaan pada pokoknya'.

"Semua orang diberi kesempatan yang sama untuk memperoleh hak-haknya," jawab Ali.

Mengetahui jawaban itu, Saleh geleng-geleng kepala. Sebab, persamaan pada pokoknya dalam hukum intelektual adalah kemiripan yang disebabkan oleh adanya unsur-unsur yang menonjol antara merek yang satu dan merek yang lain, yang dapat menimbulkan kesan adanya persamaan baik mengenai bentuk, cara penempatan, cara penulisan atau kombinasi antara unsur-unsur ataupun persamaan bunyi ucapan yang terdapat dalam merek-merek tersebut.


"Sebelum jadi dosen, Anda kan advokat. Tapi kok teknis hukumnya kelabakan betul," ujar panelis Jaja Ahmad Jayus.

Ali juga ditanya Jaja apa arti dwangsom, tetapi Ali tidak bisa menjawab. Dwangsom berarti uang paksa.

"Lupa, Pak," jawab Ali.
(asp/rna)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed