DetikNews
Senin 07 Agustus 2017, 01:07 WIB

Kapan Telegram Dibuka Blokirnya, Menkominfo: Secepatnya

Dwi Andayani - detikNews
Kapan Telegram Dibuka Blokirnya, Menkominfo: Secepatnya Pendiri Telegram Pavel Durov bertemu Menteri Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Rudiantara. (Foto: Ari Saputra)
Jakarta - Menkominfo Rudiantara memberi sinyal website Telegram yang sempat diblokir akan kembali dibuka. Hal itu karena CEO Telegram Pavel Durov disebut telah menyepakati prosedur untuk mengetatkan pengamanan agar radikalisme tidak tersebar.

"Secepatnya (dibuka blokiran) kalau misalkan sudah di review. Tadi pagi saya minta cek sekali lagi semuanya secara teknis, kalau sudah siap, ya silahkan minggu depan dibuka lagi, dibuka lagi webnya," kata Rudiantara, di Taman Suropati, Menteng, Jakarta Pusat, Minggu (6/8/2017).

Ia mengatakan, dalam pertemuannya dengan Durov, telah disepakati pembuatan prosedur untuk memperketat pengamanan. Salah satu syaratnya, yaitu mengembangkan layanan yang dapat memproses laporan tentang propaganda terorisme.

"Waktu itu di sepakati untuk membuat semacam prosedur, pertama yang dilakukan adalah bagaimana nanti Telegram membuat semacam self sensoring, pakai software, itu kalau ada yang masih lolos, terutama radikalisme terorisme nanti kita komunikasikan ke Telegram, tapi caranya berbeda dengan sebelumnya," imbuhnya.

Nantinya akan ada tim pemantau layanan tersebut yang standby selama 24 jam sehari. Hal itu diperlukan karena aksi terorisme tidak mengenal waktu.

"Kalau ini nanti akan ada orang, namanya siapa nomer teleponnya berapa, kerjanya 24 jam sehari. Karena kan yang namanya radikalisme dan terorisme, pada saat mereka melakukan aksinya mereka tidak menunggu kesiapan pemerintah atau siapapun. Jadi kita juga bekerjanya pola pikirnya prosesnya juga tidak boleh melalui aturan yang berkepanjangan, yang birokrasi yang berbelit belit dan lain sebagainya," ujar Rudi.

Sebelumnya dalam channel resminya di Telegram, Durov menceritakan bagaimana ia terkesan dengan sambutan hangat yang diterimanya selama bertandang ke Ibu Kota. Selain itu dia juga menceritakan hasil pertemuannya dengan Rudiantara.

Berikut pernyataan lengkap Durov selama kunjungannya ke Jakarta yang dipetik dari channel resminya:

Saya belum menyadari betapa banyak pengguna setia yang kami miliki di Indonesia sampai kemarin. Saya senang dengan sambutan hangat di Jakarta. Dukungan dan cinta yang saya dapatkan selama kunjungan kemarin sungguh luar biasa.

Selain bertemu dengan coders lokal dan pengadopsi awal Telegram, saya makan siang bersama Pak Rudiantara, Menteri Komunikasi Indonesia. Usaha kami sebelumnya untuk terhubung dengan Pak Rudi gagal karena e-mail yang tidak dapat diterima (e-mail tidak dapat dipercaya - mari kita semua beralih ke Telegram!), Namun pada akhirnya semuanya menjadi yang terbaik karena kami berhasil membangun sebuah koneksi personal yang erat.

Tidak ada rahasia antara Telegram dan penggunanya, karena Anda adalah orang-orang yang membuat Telegram populer, bukan pemerintah atau pemegang saham atau pengiklan (sayangnya perusahaan IT lainnya terkadang lupa itu). Jadi kami menyelenggarakan konferensi pers cepat 15 menit untuk menginformasikan kepada publik tentang isi pertemuan kami dengan Pak Rudi.

Sebagai hasil dari pertemuan ini, kami telah membuka saluran komunikasi langsung di Telegram antara tim kami untuk segera menghapus konten publik yang berisi propaganda teroris. Kami juga menambahkan pembicara bahasa Indonesia ke tim kami, dan semua ini berarti kami dapat memproses laporan tentang propaganda teroris dalam beberapa jam, bukan 1-2 hari.

Menteri meyakinkan saya bahwa dia menghormati privasi kami, dan hak untuk mendapatkan privasi dijamin oleh konstitusi Indonesia. Saya senang mendengarnya, karena - sayangnya - pemerintah beberapa negara besar lainnya di Asia tidak selalu mendapatkannya (ya, China, saya melihat Anda sekarang).

Kami di Telegram merasa bangga bahwa kami tidak mengungkapkan satu byte data pribadi kepada pihak ketiga sejak kami memulai - dan kami akan tetap seperti itu, tanpa pengecualian di manapun.

Saya juga berbagi beberapa statistik pertumbuhan Telegram di acara pers cepat kemarin:

- Setiap hari, 600.000 pengguna baru mendaftar ke Telegram secara global.
- Setiap hari, 20.000 pengguna baru mendaftar ke Telegram dari Indonesia.

Terima kasih atas dukungannya, Indonesia dan Dunia!
(yld/rvk)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed