"Antarkelompok sosial ada ketidakpercayaan sehingga yang satu sisi melegalkan kekerasan, di sisi lain ada yang patuh," ucap sosiolog UGM Derajad S Widhyharto, saat dihubungi detikcom, Jumat (4/8/2017) malam.
Derajad melihat, jumlah kelompok yang melegalkan kekerasan meningkat. Dia menggunakan berbagai alasan untuk bisa melakukan tindakan kekerasan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan begitu, kita akan gampang menemui kelompok yang tidak segan melakukan kekerasan.
"Nilai-nilai kekerasan yang mereka anut itu diyakini adalah benar. Jadi gampang membunuh orang, bacok, bawa golok seenaknya sendiri," kata Derajad.
Derajad menilai pengawasan ini bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga tanggung jawab masyarakat. Khususnya masyarakat yang memegang struktur sosial, seperti ketua RT, ketua RW, atau tokoh agama.
"Ada polisi masyarakat, community police. Jadi aparat sosial, seperti RW-RT, semakin meningkatkan kepekaan terhadap situasi. Ini bukan hanya tugas Polri. Kalau hanya andalkan Polri, rasio Polri dengan masyarakat masih kurang," imbuh Derajad.
Peristiwa tersebut terjadi pada Selasa (1/8). Warga Babelan, Kabupaten Bekasi, menghakimi seorang pria yang dituduh sebagai pelaku pencurian amplifier di Musala Al-Hidayah. Berdasarkan keterangan para saksi, pria yang tewas itu diduga mencuri amplifier karena di motornya ditemukan amplifier milik musala. (aik/dkp)











































