Laporan dari Moskow

Bangun Jakarta Berkaca dari Moskow, Djarot Teken MoU Sister City

Novi Christiastuti - detikNews
Jumat, 04 Agu 2017 08:26 WIB
Foto: Fotografer: Nathania/detikcom
Moskow - Kota Jakarta di Indonesia dan Moskow di Rusia memiliki hubungan emosional erat sejak era Presiden pertama RI Soekarno. Tata kota dan sistem transportasi Moskow dianggap sangat cocok diterapkan bagi Jakarta.

Demikian disampaikan Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat saat ditemui di sela-sela jamuan makan malam di KBRI Moskow, Kamis (3/8/2017). Djarot terbang ke Moskow untuk menandatangani perpanjangan nota kesepahaman atau MoU sister city Jakarta-Rusia yang telah terjalin sejak tahun 2006.


MoU perpanjangan telah ditandatangani Djarot dengan Wali Kota Moskow Sergey Sobyanin pada Kamis (3/8) waktu setempat. MoU itu melingkupi soal tata kota, arsitektur, sistem transportasi juga kerja sama bidang olahraga dan sebagainya.

Djarot menyebut proses renovasi Stadion Gelora Bung Karno yang menjadi kebanggaan Indonesia sama dengan yang sedang dilakukan otoritas kota Moskow terhadap Stadion Luzhniki yang bersejarah. Stadion Luzhniki yang selesai dibangun tahun 1956 dan menjadi kebanggaan Rusia hingga kini, juga menjadi cagar budaya.

Stadion Luzhniki kerap disebut sebagai 'kembaran' Gelora Bung Karno. Oleh karena itu, nantinya saat renovasi Gelora Bung Karno selesai, Pemprov DKI Jakarta berniat mengundang kesebelasan Lokomotiv Moscow untuk melakukan pertandingan persahabatan dengan kesebelasan dari PSSI.

"Karena tahun ini sudah selesai untuk renovasi. Persis sama dengan stadion di sini," terang Djarot.

Kemudian soal pengembangan sistem transportasi, Djarot menilai seakan-akan teknologi di Rusia dianggap kuno, padahal sangat modern. "Saya merasakan metro, kereta api, di sini jauh lebih baik dibandingkan Singapore, jauh lebih murah," sebutnya.

Salah satu hal yang bisa dicontoh untuk Jakarta, sebut Djarot, adalah pemasangan 150 ribu CCTV oleh otoritas pengembang transportasi Moskow. CCTV sebanyak 150 ribu buah yang tersebar di kota Moskow itu dikendalikan oleh hanya 22 orang. Arus lalu lintas dan semua tindak pelanggaran hukum di kota ini dapat terpantau.

"Efisien kan? Ini yang ingin kita wujudkan di Jakarta dari zamannya Pak Ahok. Pak Ahok menginginkan setiap orang yang mau apa, sudah ketahuan," jelasnya.

Untuk saat ini, ibu kota Jakarta baru memasang sekitar 4 ribu CCTV. Menurut Djarot, jumlah itu masih jauh dari target untuk mewujudkan Jakarta Smart City. "Sangat kurang. Dari yang sebetulnya kita inginkan 12 ribu (CCTV)," ujarnya.

"Saya tanya berapa tahun membangun sistem (transportasi). Dia bilang sama penerapannya 3 tahun. Menghabiskan US$ 500 juta. Sekitar Rp 6,5 triliun tapi luar biasa. Makanya Anda lihat polisi jarang karena sudah dikontrol semua," imbuh Djarot merujuk pada Wali Kota Sobyanin.

"Ada hubungan emosional antara Soekarno dan Rusia. Maka hubungan Jakarta-Moskow kita harapkan ke depan mampu membawa keberkahan membawa keuntungan bagi masyarakat Moskow-Jakarta, maupun Indonesia dan Rusia," ucap Djarot.

Untuk bidang olahraga, disepakati tukar-menukar antara Jakarta dengan Moskow. Otoritas kota Moskow menginginkan pengembangan badminton di wilayahnya. Sedangkan Jakarta membutuhkan pengembangan sektor senam yang sangat dibanggakan di Moskow. "Dia tertarik, dia menginginkan pelatih bulu tangkis," tambahnya.

Agar implementasi MoU ini transparan, Pemprov Jakarta berniat mengundang delegasi kota Moskow untuk berkunjung langsung ke Jakarta. "Mereka sangat tertarik. Secepatnya. Beliau menginginkan kalau bisa secepatnya. Karena problem di Moskow sama Jakarta, dulu sama," tandas Djarot.



(nvc/aan)