DetikNews
Kamis 03 Agustus 2017, 09:57 WIB

Tembak Mati Hadapi Serbuan Narkoba

Erwin Dariyanto - detikNews
Tembak Mati Hadapi Serbuan Narkoba Foto: Dok. detikcom
Jakarta - Seusai rapat kerja dengan DPR RI terkait penetapan postur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBNP) Tahun Anggaran 2017, Rabu (26/7), Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati tak langsung menuju rumahnya. Padahal hari itu sudah hampir menginjak tengah malam, yakni pukul 23.05 WIB.

Dari kompleks gedung MPR/DPR, mobil yang membawa Sri Mulyani bergerak menuju lokasi penggerebekan penyelundupan narkoba jenis sabu. Lokasinya berada di kompleks Perumahan Muara Karang Blok D3 Selatan Nomor 16, Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara. Di rumah yang menjadi gudang itu, petugas menyita 256 kilogram sabu.

"Modus operandi yang digunakan tersangka adalah memasukkan narkotika jenis sabu tersebut ke dalam 8 koli shoe polishing machine (mesin pemoles sepatu)," kata Sri Mulyani di lokasi penggerebekan.

Tembak Mati Hadapi Serbuan NarkobaFoto: Ari Saputra/detikcom
Lima hari sebelumnya, 21 Juli 2017, kepolisian menggagalkan upaya menyelundupkan 1,2 juta butir ekstasi dari Belanda di Tangerang, Banten. Pengungkapan ini hanya berselang delapan hari dari tertangkapnya bandar narkoba yang berusaha menyelundupkan 1 ton sabu ke Indonesia melalui Pantai Anyer.

Melihat rentetan pengungkapan kasus tersebut, Indonesia seperti menjadi sasaran empuk para pengedar narkoba. Hal ini, menurut Sri Mulyani, lantaran Indonesia memiliki pertumbuhan ekonomi yang baik dan jumlah penduduk yang banyak.

"Ini merupakan pasar yang menggiurkan, sehingga perlu suatu keharusan menjaga Indonesia," kata Sri.

Kepala Polri Jenderal Tito Karnavian menyebut salah satu penyebab Indonesia menjadi target bandar narkoba adalah masih dinilai lemah dalam upaya pencegahan narkotika. Inilah yang mengakibatkan sindikat narkotika jaringan internasional menjadikan Indonesia sebagai pasar yang potensial.

Tidak seperti di negara tetangga, seperti Singapura dan Filipina, sindikat narkotika berpikir ulang untuk mengedarkan sabu di sana, karena hukum mereka tegas.

"Singapura keras undang-undangnya, Filipina keras. Di Filipina, tindakan keras, yang akhirnya dianggap, mungkin menganggap (Indonesia) potential market. Kita dianggap lemah, hukum di kita lemah, sehingga mereka merajalela di Indonesia," kata Tito di Mapolda Metro Jaya, Kamis (20/7/2917).

Karena itu, ia memerintahkan jajarannya menembak mati jaringan narkotika sindikat warga negara asing yang bermain di Indonesia. "Saya menekankan, Polri dan jajarannya, kami akan menindak tegas dan keras, terutama terhadap pelaku asing. Bahkan sudah saya sampaikan, ya selesaikan secara adat, artinya tembak," tegas Tito.

Tembak Mati Hadapi Serbuan NarkobaFoto: Ari Saputra/detikcom
Kepala Badan Narkotika Nasional Komjen Budi Waseso (Buwas) pertengahan Oktober tahun lalu pernah mengungkapkan niatnya mengikuti jejak Presiden Filipina, Rodrigo Duterte dalam memerangi peredaran narkoba, yakni menembak mati para mafia narkoba. Mantan Kepala Bareskrim Polri itu tak gentar tindakannya nanti akan dianggap melanggar HAM.

"Tindakan mereka yang merusak jutaan generasi muda itu justru lebih melanggar HAM," kata Buwas dalam acara 'Ngopi Bareng Buwas-Pimred Media' di Surabaya, 26 Oktober 2016.
(erd/dnu)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed