Pemerintah Militer Myanmar Dituding Dalangi Serangan Bom
Selasa, 10 Mei 2005 17:18 WIB
Jakarta - Rumor mengenai siapa dalang serangkaian serangan bom di Yangon, Myanmar berhembus kencang. Bahkan beredar spekulasi bahwa korban jiwa yang sebenarnya lebih tinggi dari angka resmi yang dilaporkan media pemerintah Myanmar.Menurut media pemerintah, 11 orang tewas dan 162 orang luka-luka dalam aksi peledakan bom beruntun pada Minggu (8/5/2005) lalu itu. Pemerintah junta militer Myanmar menuding gerilyawan etnis pemberontak dan aktivis pro-demokrasi berada di balik serangan bom yang terjadi di dua mal dan sebuah pusat bisnis tersebut.Namun klaim itu dibantah para pemimpin pemberontak dan diragukan banyak warga. Kelompok pemberontak balik menuduh junta mendalangi ledakan-ledakan bom itu. Alasannya, pemerintah ingin mendapatkan justifikasi untuk lebih gencar melakukan operasi penangkapan kelompok-kelompok yang berseberangan dengan junta.Situasi ini membuat warga bingung dan tidak tahu harus menyalahkan siapa. "Kami sama sekali tidak tahu harus menyalahkan siapa," ujar U Ba Tin, seorang pensiunan pegawai pemerintah. "Saya benar-benar merasa sedih dan kecewa dengan situasi kami," imbuhnya.Situasi di ibukota Yangon pada hari Selasa ini sudah kembali normal. Sebagian besar pusat perbelanjaan sudah dibuka kembali. Namun banyak warga yang masih takut untuk pergi ke tempat-tempat publik.Koran The New Light of Myanmar, yang menjadi corong pemerintah, menyerukan warga Myanmar untuk waspada akan elemen-elemen destruktif yang punya niat mengganggu kedaulatan negara.Pemerintah Myanmar menyensor keras semua pemberitaan mengenai serangan bom tersebut. "Kami diperintahkan untuk tidak memberitahukan Anda apa pun," kata seorang pejabat rumah sakit ketika ditanyai mengenai jumlah total korban jiwa dalam peristiwa itu.Sejumlah saksi mata mengungkapkan, korban tewas diperkirakan lebih besar dari yang diumumkan junta Myanmar. Keterangan ini didukung oleh sumber-sumber keamanan di negeri tetangga Thailand. "Sumber-sumber kami di Myanmar mengatakan ada 21 orang yang meninggal dan 165 orang terluka, 40 orang di antaranya kritis," ujar seorang pejabat keamanan Thailand di Bangkok.
(ita/)











































