Calon Hakim Agung Ini Tak Pecat Bawahan yang Terima Suap

Andi Saputra - detikNews
Rabu, 02 Agu 2017 09:58 WIB
Ilustrasi (ari/detikcom)
Jakarta - Eka Kartika tidak memecat anak buahnya yang kedapatan menerima suap dari pihak beperkara. Hakim tinggi pada Pengadilan Tinggi Jakarta itu hanya memutasi bawahannya ke pengadilan lain.

Hal itu terungkap saat Eka menjalani wawancara terbuka di gedung Komisi Yudisial (KY), Rabu (2/8/2017). Salah satu komisioner, Maradaman Harahap, mencecar integritas Eka.

"Sudah berapa kali jadi ketua pengadilan negeri?" tanya Maradaman.

"Tiga kali," jawab Eka.

Maradaman kemudian mencecar Eka, yaitu ketika ia menjadi ketua pengadilan negeri, bagaimana bila menemukan ada bawahannya yang menerima suap. Eka menjawab, saat menjadi KPN Bale Bandung, ia mendapat laporan panitera pengganti menerima suap dari pihak beperkara dengan janji bisa membantu memenangkan kasus. Tapi, dalam perkara itu, vonis tak sesuai dengan pesanan. Eka lalu memeriksa panitera pengganti tersebut.

"Waktu di Bale Bandung, ada pegawai dilaporkan karena dia menjanjikan mengurus perkara, tapi tidak berhasil. Saya panggil, saya tegur. Ketika pemeriksanya setelah selesai, turun tim (Badan Pengawas MA)," ujar Eka.

Tim MA kemudian mencecar Eka, sanksi apa yang diberikan kepada panitera pengganti tersebut.

"Saya mengusulkan, karena panitera pengganti, dipindahkan dan dicopot," tutur Eka.

Maradaman mengernyitkan kening. Mengapa panitera pengganti itu tak diusulkan dipecat.

"Kalau dipecat, siapa yang mencicil (uang yang ditagih dari pihak yang beperkara)?" jawab Eka.

Eka juga menceritakan, selama menjadi ketua PN, ia menerima uang dari pemda.

"Saya tidak terima begitu saja. Saya tanya ke Kajari, Dandim, Kapolres, apakah mengikat? Jawabannya tidak, maka bantuan saya terima. Pengadilan di daerah tidak seperti di Jakarta. Di Kuningan, penyuluhan hukum itu naik-turun gunung. Uang itu untuk membeli ban. Uang servis mobil tidak setara. Atau untuk bensin sehari-hari. Bila ada sisa, untuk kesejahteraan karyawan, seperti baju olahraga," tutur Eka.

Wawancara terbuka itu juga bisa dilihat langsung lewat streaming di website KY.

"Tapi bantuan itu tidak bisa mempengaruhi putusan saya," Eka menegaskan. (asp/rvk)