Jepang Bersumpah Bebaskan Warganya yang Diculik di Irak
Selasa, 10 Mei 2005 12:43 WIB
Jakarta - Penculikan warga asing terus terjadi di Irak. Kali ini seorang warga Jepang kembali menjadi korban penculikan kelompok bersenjata di negeri bekas rezim Saddam Hussein itu. Pemerintah Tokyo menyatakan akan melakukan segala upaya yang mungkin untuk membebaskan warganya yang disandera itu. Akihito Saito diyakini telah diculik setelah baku tembak di Irak barat saat konvoi kendaraannya meninggalkan pangkalan AS pada Minggu (8/5/2005) malam lalu. Saito bekerja sebagai konsultan untuk sebuah perusahaan keamanan Inggris. Demikian disampaikan Kementerian Luar Negeri Jepang, seperti dilansir kantor berita AFP, Selasa (10/5/2005).Perusahaan Inggris tersebut, Hart, telah menyampaikan kepada Konsulat Jenderal Jepang di London, Inggris bahwa Saito (44) hilang menyusul serangan itu. Beberapa warga asing lainnya juga tewas dalam kontak senjata itu. "Kami yakin informasi dari Hart bisa dipercaya, namun kami tidak ada konfirmasi independen soal apakah dia telah disandera," ujar Sekretaris Kabinet Jepang Hiroyuki Hosoda. "Pemerintah sedang berbuat semampunya untuk menyelesaikan kasus ini," imbuh petinggi negeri Matahari Terbit itu.Kementerian Luar Negeri Jepang menyatakan, pemerintah saat ini tengah mengkoordinasikan upaya-upaya dengan Hart, pemerintah Irak dan AS, serta negara-negara di sekitar Irak dan keluarga Saito di Jepang.Jepang menempatkan sekitar 600 prajuritnya di Irak sebagai bagian dari pasukan koalisi. Seorang warga Jepang telah diculik di Irak pada Oktober 2004 lalu dan dipenggal setelah Perdana Menteri Jepang Junichiro Koizumi menolak untuk memenuhi tuntutan penculik agar menarik mundur pasukan dari Irak.Tiga relawan dan dua wartawan Jepang juga pernah diculik kelompok bersenjata di Irak pada tahun lalu. Namun mereka dibebaskan setelah pemerintah Tokyo melakukan mediasi intens.
(ita/)











































