"Gejala bullying kan sudah meluas di sekolah-sekolah juga, maka kita minta kementerian terkait untuk melakukan percepatan kebijakan Sekolah Ramah Anak. Di Sekolah Ramah Anak kan ada instrumen soal bagaimana guru bisa hadir di tengah-tengah siswanya," ujar Komisioner KPAI Jasra Putra (Jas) dalam perbincangan, Selasa (1/8/2017).
"Hadir dalam artian tidak sekadar mengajar, tapi hadir dalam artian mengetahui dan memahami bagaimana persoalan anak di kelas, di luar kelas, bahkan kalau perlu sampai di rumah," sambung Jas menjelaskan soal Sekolah Ramah Anak.
Menurut Jas, Indonesia dapat mencontoh Jepang untuk menekan angka kasus bully di sekolah-sekolah. Di Jepang, ada semacam program home visit atau kunjungan guru ke rumah orang tua murid di sekolah-sekolah.
"Kita lihat guru-guru di Jepang ada home visit dan seterusnya, ini tidak dilakukan. Sehingga, kejadian ini sangat kita sayangkan terulang lagi, apalagi di Riau baru 23 Juli kemarin baru melaksanakan Hari Anak Nasional," sebut Jas.
Selain itu, Jas meminta pihak sekolah Elva melakukan kontrol terhadap murid-muridnya agar kasus bully dapat ditekan atau bahkan dihilangkan sama sekali. Untuk kasus Elva, Jas ingin pihak sekolah melakukan semacam upaya pencarian kebenaran.
"Ini kan korban, kita harus minta pihak sekolah menelusuri apakah benar nggak ini diejek teman-temannya. Kalau iya, kan anak-anak ini yang mengejek, harus direhab juga, harus diperhatikan jangan sampai ini terjadi lagi. Setiap sekolah dinas, termasuk dinas pendidikan harus melakukan pertemuan mengevaluasi secara menyeluruh," ujarnya.
"Artinya, anak ini tetap kita lindungi, baik pelaku maupun korban," pungkas Jas. (gbr/fjp)











































