Pelaku yang dicurigai Novel tersebut bernama Lestaluhu. Pria tersebut juga sudah diperiksa oleh Polri, dan hasilnya pria itu dianggap bukanlah sebagai pelaku.
"Yang dimaksud itu Saudara Lestaluhu. Ini kan nomor 3 ini (dari lima orang yang diperiksa Polri). Ini berdasarkan keterangan dari Saudara Novel Baswedan. Tapi kita tanya Saudara Novel dapat informasi dari mana, informasi dapat dari seorang anggota polisi Densus," kata Tito saat jumpa pers di kantor Presiden, kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (31/7/2017).
Tito mengatakan, begitu kasus ini terjadi, dia langsung memerintahkan jajarannya di bawah untuk segera mengusut tuntas. Berbagai keterangan pun dicari oleh Polri.
"Karena memang pada waktu awal peristiwa saya memerintahkan sejumlah tim untuk mengungkap kasus ini. Mulai tim Polres Jakarta Utara, saya telepon Kapolres, tim dari Polda Metro saya telepon Kapolda Metro, tim dari Kabaresrim saya telepon, dan berikutnya Kepala Densus Antiteror Irjen Syafei. Semua telepon keempat pejabat tersebut untuk menurunkan tim pengungkap kasus sejak awal," jelas Tito.
Selanjutnya, kata Tito, ada seorang perwira dari Tim Densus Antiteror melakukan penelusuran lewat Facebook terkait orang yang dicurigai. Hasilnya didapat foto Muhammad Lestaluhu yang selanjutnya ditunjukkan ke beberapa saksi.
"Dia mendapatkan foto si Muhammad Lestaluhu ini. Kemudian disampaikan fotonya ke beberapa saksi di TKP. Saksi menyatakan pernah melihat, tapi bukan waktu kejadian. Pernah melihat beberapa waktu sebelumnya Saudara Lestaluhu ini. Kemudian informasi ini sampai kepada Novel Baswedan, persepsinya menjadi berubah bahwa itulah pelakunya," jelas Tito.
Polri kemudian mencari Lestaluhu dan berhasil meminta keterangan kepadanya. Diketahui, Lestaluhu bekerja sebagai petugas satpam di salah satu tempat hiburan di Jakarta Pusat.
"Setelah diamankan, kemudian dicek semua. Dia pertama tidak ngaku, kemudian dicek alibi-alibinya yang bersangkutan tidak ada di TKP dan tidak pernah masuk ke wilayah Kelapa Gading dan itu dibuktikan IT-nya yang sudah dicek tim IT kita," kata Tito.
Tito mengatakan pihaknya terus melakukan penelusuran secara detail mengenai teror ini. Termasuk penelusuran CCTV di tempat yang tak jauh dari lokasi kejadian. Hasilnya menguatkan bahwa Lestaluhu bukanlah pelaku penyerangan Novel.
"Sampai detail hari itu, detail jam per jam, menit per menit, detik per detik, dia ke mana, kita pelajari alibinya. Ada saksi-saksinya, ada CCTV dan lain-lain menunjukkan positif yang bersangkutan bukan (pelaku). Namun, lanjut Tito, jika ada yang berkeberatan dengan kesimpulan yang diambil Polri tersebut, pihaknya bersedia untuk melakukan konfrontasi dengan para saksi.
"Kalau memang kita masih belum puas, kita lakukan konfrontir, konfrontir dengan saksi-saksi di TKP pada saat kejadian ini, termasuk Lestaluhu, bukan," katanya.
Terlebih dari hasil penelusuran Polri yang terbaru, pelaku diduga memiliki tinggi badan 167-170 cm, sedangkan Lestaluhu lebih kecil dari ukuran itu.
"Apalagi badannya kecil. Pelaku ini 167-170, Lestaluhu ini 157 cm, jadi bukan pada profil itu. Dan saksi sudah di-BAP, saksi yang melihat sudah di-BAP mengatakan bukan dia. Kalau ada yang tidak puas, nggak ada masalah, kita justru meminta kepada tim dari KPK untuk melakukan verifikasi ulang. Silakan verifikasi ulang, kita berikan akses, silakan verifikasi ulang, dibawa declare detik per detik, jam per jam, termasuk call recorder-nya bisa kita uji. Dan saya yakin teman-teman KPK tidak kalah dengan Polri kalau untuk urusan melakukan penyidikan di lapangan seperti ini," jelasnya. (jor/rvk)











































