Pesta Kemenangan Setelah 12 Hari

Aryo Bhawono - detikNews
Minggu, 30 Jul 2017 08:45 WIB
Foto: REUTERS/Ronen Zvulun
Foto: REUTERS/Ronen Zvulun
Jakarta - Ratusan warga Palestina memenuhi jalanan menuju ke Masjid Al Aqsa, Kota Tua Jerusalem pada Kamis (27/7). Gema takbir dan sorak kemenangan menggema di setiap lorong jalan menuju kompleks Harm Al Sharif, tempat Masjidil Aqsa berdiri.

Kegembiraan itu bermula ketika pemerintah Israel akhirnya membongkar semua metal detector dan kamera pengintai di semua jalan menuju Al Aqsa, termasuk di Lion's Gate. Meski kemeriahan kemenangan itu sempat rusak oleh adanya tembakan dan gas air mata di salah satu sudut gerbang.

Para pemuda Palestina menyalakan kembang api di bawah pengawasan tentara Israel. Salah seorang pemuda, Firas Abasi mengaku tak dapat menyembunyikan kebahagiaanya atas kemenangan ini.

"Selama 12 hari tak ada seorang pun tidur, kami tidak melakukan apapun kecuali berdiri di depan pagar Al Aqsa," ujarnya.

Kepala lembaga Waqf, Abdel-Azeem Salhab, mengungkapkan kepuasan mereka atas keputusan Israel menyingkirkan alat pemantau keamanan. Kondisi gerbang sekitar Masjid Al Aqsa kembali seperti sebelum konflik pecah. Al Waqf merupakan lembaga pengelola Jordania yang dipercaya untuk mengurusi Harm Al Sharif.

"Pemantauan teknis menunjukkan semua peralatan pendudukan otoritas Israel yang diletakkan di luar masjid Al Aqsa telah disingkirkan," ujar Abdeel-Azeem.

Imam Besar Jerusalem, Muhammad Husein, menganggap kembalinya kondisi kawasan Masjid Al Aqsa sangat membesarkan hati Palestina. Ia mengajak seluruh muslim Palestina untuk salat di dalam Masjid Al Aqsa.

Politisi Palestina menganggap kemenangan warga ini sebagai momen yang langka. Pastinya langkah ini dapat meredakan ketegangan yang sudah mencapai titik didih di kawasan ini. Seluruh kelompok di Palestina tadinya sudah menyerukan untuk melakukan gerakan Hari Kemarahan pada Jumat (28/7/2017).

Perayaan ini menutup rangkaian panjang perjuangan warga Palestina memprotes pemasangan alat pemantau keamanan di gerbang kawasan Masjid Al Aqsa. Mereka beranggapan bahwa pemasangan ini sebagai bentuk pendudukan Israel. Selama ini Harm Al Sharif dikelola oleh Al Waqf.

Aksi perlawanan ini sendiri telah memakan korban jiwa 4 warga Palestina. Perlakuan pihak Israel sangat menyakitkan karena ibadah salat yang digelar di muka pembatas sempat dibubarkan paksa. Imam Al Aqsa Sheikh Ikrima Sabri sendiri mengalami luka tembak peluru karet saat salat digelar pada Kamis, 20 Juli lalu.

Penutupan ini sendiri dilakukan oleh Israel setelah warganya meninggal dibunuh oleh tiga warga Palestina. Tiga orang ini kemudian lari ke arah Harm Al Sharif dan terlibat baku tembak hingga akhirnya meninggal. Pemasangan alat pemantau keamanan dilakukan untuk mencari alat bukti di lokasi itu.

Namun pesta perayaan sempurna ini terkoyak ketika keamanan Israel menembakkan gas air mata dan senapan peluru karet. Warga Palestina di Gerbang Hutta mengalami luka-luka.

Selain itu kekerasan keamanan Israel juga terjadi di Gerbang Lion's Gate. Tempat ini merupakan lokasi konsentrasi masa Palestina saat melakukan protes selama beberapa hari belakangan.

Pemimpin sayap kanan Israel menganggap pemerintahan Benjamin Netanyahu menunjukkan sikap lemah. Mereka beranggapan kedaulatan Israel di Jerusalem telah terkoyak.

"Israel tampil lemah dalam dalam kasus ini, saya menyesalkannya," ucap Menteri Pendidikan Naftsli Bennet.


Sumber: AFP, Middle East Eye

(ayo/jat)