Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Kementerian LHK, Raffles B. Panjaitan, mengatakan, kebakaran lahan yang terjadi di Indonesia 99 persennya disebabkan karena dibakar. Ia mencontohkan, sekering apapun lahan di Indonesia tidak bakalan terbakar jika tidak ada pemicu seperti bara api.
"Cobalah praktekkanlah panasnya seperti apa tidak ada bara tidak ada pemicu tidak akan terbakar. Tapi ini masyarakat polanya karena sudah terbiasa membakar saat buka lahan makanya ini yang harus diubah," kata Raffles usai menggelar pertemuan tertutup dengan Wakil Gubernur Aceh Nova Iriansyah di kantor gubernur, Jumat (28/7/2017) sore.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pengalaman tahun 2015 (kebakaran) yang paling besar itu sangat sedih kita. Masyarakat kita banyak yang sakit. Itu tidak boleh terjadi lagi," jelasnya.
Angka kebakaran lahan di Indonesia pada 2017, kata Raffles, masih tergolong rendah. Hingga Juli, lahan yang terbakar yaitu 20 ribuan hektare. Hal ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Untuk mengurangi angka tersebut, pemerintah pusat bersama pemerintah provinsi dan TNI/Polri sudah melakukan langkah pencegahan dini.
"Ini sangat kecil dibanding tahun lalu yaitu 438.290 hektare pada tahun 2016 dan tahun 2015 mencapai 2,6 juta hektare. Itu sangat jauh turun dari 2015 ke 2016 turun 82 persen dan 2016 hingga 2017 turun 99 persen. Mudah-mudahan kita pertahankan ini sampai seterusnya," ungkap Raffles.
"Ini harus terus kita jaga jangan sampai Indonesia ini dikatakan negara lain tidak bisa menjaga negaranya dari kebakaran," jelas Raffles. (rvk/rvk)











































