DetikNews
Jumat 28 Juli 2017, 10:50 WIB

Cerita Brigadir Saleh Bangun SD untuk Anak-anak Petani di Bombana

Mei Amelia R - detikNews
Cerita Brigadir Saleh Bangun SD untuk Anak-anak Petani di Bombana Brigadir Saleh membangun SD untuk anak-anak petani di Bombana, Sultra. (Istimewa)
Jakarta - Anak-anak di Desa Tunas Baru, Kecamatan Rarowatu Utara, Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara, harus menempuh jarak yang jauh untuk mendapatkan pendidikan. Mereka harus berangkat sejak subuh karena jarak ke sekolah terdekat memakan waktu sekitar 1,5 jam.

Sejak kedatangan Brigadir Muhammad Saleh, mereka kini tidak perlu susah payah lagi untuk mengenyam pendidikan di sekolah dasar (SD). Berkat kepedulian anggota Bhabinkamtibmas Polres Bombana ini, anak-anak petani di sana kini bisa mendapatkan pelajaran di SDS Anak Saleh.

Brigadir Saleh membangun SD untuk anak-anak petani di Bombana, Sultra.Brigadir Saleh membangun SD untuk anak-anak petani di Bombana, Sultra. (Istimewa)


Sekolah swasta setingkat sekolah dasar itu kini berdiri tegak atas perjuangan Saleh. Meski hanya dibuat dari bangunan semipermanen, anak-anak di sana bisa melakukan kegiatan belajar-mengajar tanpa harus kepanasan dan kehujanan.

"Awalnya, ketika saya ditempatkan sebagai personel Polres Bombana sebagai Bhabinkamtibmas di Desa Rarowatu, saya melihat tidak ada sekolah dasar di sana," kata Saleh mengawali perbincangan dengan detikcom, Jumat (28/7/2017).

Saleh bertugas sebagai Bhabinkamtibmas di Desa Rarowatu sejak Januari 2015. Selama bertugas, ia kerap menemui warga untuk mengetahui permasalahan yang ada di lingkungan mereka.

"Warga di sana mengeluhkan karena anak-anaknya harus sekolah di tempat yang cukup jauh, di desa tetangga yang berjarak sekitar 3-8 km atau sekitar 1,5 jam perjalanan," kata pria kelahiran Raha, Kabupaten Muna, itu.

Brigadir Saleh membangun SD untuk anak-anak petani di Bombana, Sultra.Brigadir Saleh membangun SD untuk anak-anak petani di Bombana, Sultra. (Istimewa)


Dari situ, kemudian muncullah ide Saleh mendirikan SD sendiri di desa tersebut. Desa Rarowatu merupakan satu dari sekian desa yang mengalami pemekaran sejak 2006. Namun, sejak pemekaran itu, tidak ada satu pun SD di tempat tersebut.

"Saya merasa terpanggil, kemudian saya berkomunikasi dengan aparat desa, kecamatan, sampai ke dinas pendidikan kabupaten. Saya minta petunjuk langkah apa untuk membangun sekolah," tuturnya.

Brigadir Saleh membangun SD untuk anak-anak petani di Bombana, Sultra.Brigadir Saleh membangun SD untuk anak-anak petani di Bombana, Sultra. (Istimewa)


Syarat pertama untuk membangun sekolah, tentunya, haruslah ada sebuah lahan. Saleh pun segera membuat proposal untuk pembangunan sekolah tersebut.

Saleh kemudian meminjam rumah milik seorang warga yang tidak terpakai demi tercapainya misi menciptakan pendidikan di desa tersebut. Kegiatan belajar-mengajar pun berjalan dengan seadanya saat itu.

"Sampai kemudian baru berjalan 7 bulanan, pemilik rumah kembali lagi dan mau memakai rumahnya lagi. Saat itu saya komunikasi lagi dengan warga, sehingga akhirnya anak-anak dipindahkan belajar-mengajarnya ke balai desa," ujarnya.

Pada awal pendirian sekolah, SD tersebut hanya memiliki seorang guru. Guru itu tak lain adalah istrinya. Bhayangkari ini memiliki latar belakang sarjana pendidikan sekolah dasar, sehingga tak sulit baginya untuk mengajar.

Setelah tak lagi menempati rumah warga dan kegiatan belajar-mengajar dipindah ke balai desa, muncul lagi persoalan baru. Karena sering dipakai untuk kegiatan rapat dan pertemuan warga, kegiatan belajar sedikit terganggu.

"Alhamdulillah kemudian mendapatkan hibah lahan dari warga, sehingga saya bersama warga gotong-royong membangun sebuah bangunan sekolah," tuturnya.

Brigadir Saleh membangun SD untuk anak-anak petani di Bombana, Sultra.Brigadir Saleh membangun SD untuk anak-anak petani di Bombana, Sultra. (Istimewa)


Warga berpatungan membeli material agar sekolah bisa berdiri. Selama berbulan-bulan, warga mengumpulkan material dan akhirnya saat ini sekolah dengan bangunan semipermanen sudah bisa dipakai.

Sekolah sederhana itu hanya berdinding semen sebagian dengan tambahan kayu dan atap seng. Sekolah tersebut baru memiliki tiga ruangan kelas. Saat ini, sekolah tersebut sudah diisi 30 murid.

"Sekolahnya memang tidak megah, tetapi yang penting anak-anak tidak kepanasan dan kehujanan," ucap polisi yang baru berusia 32 tahun itu.

Fasilitas belajar-mengajar, seperti papan tulis, kapur, dan penghapus, tersedia meskipun masih terbatas. Bahkan untuk meja dan kursi anak-anak, Saleh mencari toko mebel yang mau membuatkannya.

"Saya ke toko mebel, saya bilang minta tolong buatkan meja dan kursi untuk bangku sekolah, darurat saja sambil menunggu dari pemerintah," ungkapnya.

Selama proses pembangunan sekolah, Saleh pun terus berjuang untuk menambah guru. Saat ini, total ada tiga guru yang mengajar di sekolah itu, termasuk istrinya. Pada awal kegiatan sekolah berlangsung, Saleh bahkan ikut mengajar, memberikan pemahaman soal lalu lintas, baris-berbaris, hingga pelajaran pendidikan Pancasila dan kewarganegaraan (PPKN) serta matematika.

"Mereka guru honorer, mendapatkan gaji honorer dari dana BOS. Alhamdulillah dinas pendidikan juga memberikan dana BOS. Istri saya juga tahun pertama tidak mendapatkan honor sama sekali," katanya.

Brigadir Saleh membangun SD untuk anak-anak petani di Bombana, Sultra.Brigadir Saleh membangun SD untuk anak-anak petani di Bombana, Sultra. (Istimewa)


Meski bertaraf swasta, sekolah tersebut tidak memungut bayaran kepada murid-murid. Para siswa tetap mendapatkan seragam merah-putih dan baju olahraga, yang juga bersumber dari dana BOS. Saleh menyumbang sebagian buku-buku pelajaran dari hasil menyisihkan gajinya sebagai polisi.

"Kalau ada yang tidak bisa beli seragam sendiri, kita berikan karena ada dana BOS bagi siswa yang tidak mampu. Untuk pelajarannya sesuai dengan kurikulum pendidikan sekolah dasar. Ada pendidikan agama, penjakses, PPKN, matematika, dan lain-lain," katanya.

Mengenai penamaan SD tersebut, Saleh mengaku bahwa SD itu diberi nama 'SDS Anak Saleh' adalah hasil kesepakatan warga setempat. Nama sekolah itu juga merupakan bentuk penghargaan masyarakat setempat atas perjuangan Saleh dalam menciptakan dunia pendidikan di Desa Rarowatu itu.

"Ya katanya, nanti kalau saya sudah tidak dinas di situ lagi, biar ada yang ingatlah kalau ada polisi bernama Saleh yang ikut membangun sekolah itu," ucapnya.

Saleh pun merasa bangga atas penghargaan dari masyarakat itu. Tetapi yang paling membuatnya bangga adalah karena dia bisa memberikan sekolah gratis bagi anak-anak petani di sana, sehingga anak-anak itu bisa mendapatkan pendidikan yang setara dengan anak-anak lainnya.
(mei/idh)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed