DetikNews
Kamis 27 Juli 2017, 09:50 WIB

Tapal Batas

Cerita Perjalanan ke Entikong, Aspal Mulus Hingga Batas RI-Malaysia

Danu Damarjati - detikNews
Cerita Perjalanan ke Entikong, Aspal Mulus Hingga Batas RI-Malaysia PLBN Entikong difoto dari BTS Telkomsel. Foto: Rachman Haryanto
Entikong - Dua jam perjalanan udara dari Bandara Soekarno-Hatta ke Bandara Supadio mengawali langkah detikcom menuju kawasan tapal batas Indonesia yang berhadapan dengan Malaysia, Entikong. Kaki kami menapak di tanah Kalimantan, ini bakal menjadi sepekan penjelajahan yang 'membukakan mata dan pikiran' dalam melihat realita perbatasan.

Suasana Bandara Internasional Supadio, Kalimantan Barat, Kamis (13/7/2017) pukul 07.30 WIB cukup sibuk. Mentari khatulistiwa sedikit terhalang mendung saat menyambut orang-orang di Bandara.

"Awak datang, kamek sambot," begitu tulisan di salah satu sudut Bandara yang terletak di Kabupaten Kubu Raya Kalimantan Barat ini, tak jauh dari Kota Pontianak.


Bandara ini menampung 3,8 juta penumpang per tahunnya, dan akan ditingkatkan menjadi 5,5 juta penumpang per tahun. Bandara ini punya arsitektur atap melengkung di tengah, disambung seperti sayap lebar mengembang ke dua ujungnya. Ornamen-ornamen khas Dayak, Melayu, dan Tionghoa menambah khas suasana di sini.

Bandara Supadio.Bandara Supadio. Foto: Yulida Medistiara

Ini memang bangunan baru. Di kejauhan, nampak derek konstruksi menjulang tinggi. Tempat ini melewati tahap pembangunan, rencananya bakal punya landasan pacu 3.000 meter dan lebar 60 meter pada akhir tahun nanti, landasan pacu sekarang masih sepanjang 2.240 meter dan lebar 45 meter. Total luas bandara 13.000 meter persegi dan ditingkatkan menjadi 32.000 meter persegi.

Saat mata sibuk melihat-lihat sisi luar Bandara, dua mobil datang menjemput. Di masing-masing mobil ada Pak Adi dan Bang Feri yang bakal mengantar kami ke manapun. Beberapa menit menjelang 09.00 WIB, kami beranjak dari Bandara menuju Sanggau, kabupaten di Kalimantan Barat yang punya kawasan perbatasan Indonesia-Malaysia, termasuk ada Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Terpadu Entikong yang ikonik itu.


Kota Pontianak kami singgahi sejenak sekadar untuk makan bubur daging sebagai sarapan. Perjalanan menuju Sanggau harus segera ditempuh, jaraknya 184 km. Hiruk-pikuk Pontianak perlahan sirna, apalagi saat mobil mulai melaju di Jalan Trans Kalimantan Poros Selatan.

Jalan Trans Kalimantan adalah penghubung lima provinsi di pulau ini. Jalan ini dibangun Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menggunakan dana APBN dan Dana Alokasi Khusus (DAK) Infrastruktur. Total panjangnya adalah 7.619 km, namun untuk di Kalimantan Barat saja panjangnya yakni 2.117 km.

Jalan menuju perbatasan RI-Malaysia.Jalan menuju perbatasan RI-Malaysia. Foto: Fadhly Fauzy Rachman.

Jalan Trans Kalimantan ini terasa ramah kendaraan. Aspal mulus dengan total lebar sekitar tiga meter dibagi menjadi dua jalur. Semakin menjauh dari Pontianak, kerapatan bangunan-bangunan di pinggir jalan mulai berkurang. Lalu lintas tidak macet. Selain mobil dan motor pribadi, jalan ini dilalui oleh bus dan truk. Beberapa kali lewat, truk pengangkut sawit.

Nampaknya tak bakal ada masalah berarti di Jalan Trans Kalimantan ini. Gelaran aspal terpantau mulus-mulus saja, cocok untuk tidur di mobil selama perjalanan. Tapi mata menjadi terbelalak pukul 11.30 WIB, ketika ada genangan di depan kami.


Air menggenangi Jalan Trans Kalimantan menjelang Tayan. Sejumlah orang mencoba melancarkan jalan dengan berharap uang dari pelintas yang melambatkan laju kendaraan. Genangan tak terlalu panjang, lalu lintas tersendat sekitar 50 meter saja.

Selepas itu, aspal mulus lagi. Sesekali ada aspal yang ditambal, tapi itu bukan kerusakan jalan yang cukup berarti. Pemandangan di sisi jalan adalah lahan gambut, sesekali terlihat kebun sawit. Cukup sering terlihat, bukit yang dikeruk tanahnya atau yang dibersihkan dari tumbuhan-tumbuhan, juga terlihat bukit-bukit batu lengkap dengan alat-alat berat didekatnya.

Sungai di Kabupaten Sanggau.Sungai di Kabupaten Sanggau. Foto: Kurnia Yustiana

Rumah-rumah kayu di atas lahan gambut yang tergenang juga banyak di sini. Ada pula alat-alat berat yang mengeruk dan menguruk lahan gambut dengan tanah merah.

Jalan Trans Kalimantan kami akhiri di Simpang Ampar, karena kami harus berbelok ke arah Sanggau. yakni ke kiri. Jalan selanjutnya yang kami temui bernama Jalan Raya Binjai-Sanggau.


Menjelang Rumah Betang Raya Dori' Mpulor di Jalan Jenderal Sudirman Desa Sei Mawang, jalan aspal berganti dengan kerikil-kerikil, kemudian disusul aspal lagi. Satu backhoe bekerja memperbaiki jalan.

Gerbang Kota Sanggau telah dilewati pukul 13.40 WIB, alias setelah sekitar lima jam perjalanan dari Bandara Supadio, dikurangi waktu makan sejam dan berhenti di toko. Kami memang tak ngebut-ngebut amat. Tibalah di Kabupaten perbatasan ini. Kami singgah di Rumah Dinas Bupati Sanggau di Kelurahan Ilir Kota, Kecamatan Kapuas, untuk menemui Bupati Paolus Hadi.

Jalan menuju Entikong.Jalan menuju Entikong. Foto: Dok, Kementerian PUPR.

Entikong masih berjarak sekitar 145 km lagi melintasi Jalan Lintas Malindo yang beraspal mulus, waktu tempuhnya sekitar dua jam. Jadi bila perjalanan ditempuh dari Bandara Supadio menuju Entikong tanpa berhenti-berhenti, waktu yang dibutuhkan kurang lebih enam jam. Namun saya tidak langsung menempuh jalan itu, melainkan bermalam di Sanggau dulu.

Paginya, sopir kami yakni Pak Adi mengantarkan kami ke kabupaten perbatasan yang lain, yakni Kabupaten Sintang, ada Gawai Dayak di sana. Berangkat dari Sanggau pukul 08.00 WIB, sampai Sintang pukul 12.00 WIB. Aktivitas di Sintang kami rampungkan sampai malam hari, sekitar pukul 21.30 WIB.


Bila dilihat di peta, jarak Pontianak ke Entikong dan jarak Sintang ke Entikong kurang lebih hampir sama. Perjalanan malam dari Sintang ke Entikong kami tempuh dalam lima jam. Aspal jalan rata-rata memang mulus, namun penerangan jalan terasa masih minim. Lampu-lampu kendaraan yang lewat berlawanan arah jelas menyilaukan. Truk, bus, dan mobil pribadi adalah kendaraan dominan di jalur ini.

"Di sini tidak ada begal," kata Pak Adi sambil menyetir.

PLBN Entikong.PLBN Entikong. Foto: Rachman Haryanto

Meski kadang jalanan terasa ngelangut pada malam hari, namun dia menjamin kawasan Kalimantan Barat ini minim begal. Yang perlu diwaspadai adalah jangan sampai menabrak orang atau kendaraan lain, jadi konsentrasi harus terjaga, mengemudi dalam kondisi mengantuk sangat-sangat tidak dianjurkan dalam situasi seperti ini.

Dini hari, Jalan Lintas Malindo kami lalui. Ini adalah jalan menuju PLBN Terpadu Entikong. Suasana pengamanan perbatasan negara sudah terasa. Sekitar tiga kali mobil kami melintasi penjagaan aparat, baik dari militer maupun kepolisian. Inilah kawasan perbatasan negara!

Simak terus cerita-cerita dari kawasan terdepan Indonesia di Tapal Batas detikcom!
(dnu/tor)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed