12 Personel Pomal Diperiksa

Kaburnya Pembunuh Bos Asaba

12 Personel Pomal Diperiksa

- detikNews
Senin, 09 Mei 2005 13:32 WIB
Jakarta - Sebanyak 12 personel Polisi Militer Angkatan Laut (Pomal) Lantamal II Jakarta kini tengah diperiksa secara intensif. Pemeriksaan ini terkait kaburnya dua pembunuh bos PT Asaba Boedyharto Angsono dan pengawalnya Edy Siyep dari tahanan Lantamal II."Ke-12 personel Pomal Lantamal II ini saat itu sedang melaksanakan tugas jaga atau piket," kata Danpomal Brigjen Marinir Soenarko di Mabes AL, Cilangkap, Jakarta Timur, Senin, (9/5/2005).Personel Pomal yang diperiksa terdiri dari perwira, bintara dan tamtama. Pemeriksaan mereka dianggap penting untuk mengungkap lebih jauh keterlibatan oknum dalam atas kaburnya dua terpidana mati tersebut.Sejauh ini, proses penyelidikan terhadap 12 orang ini sedang dikembangkan. Namun, sementara ini belum ada keterkaitan antara kaburnya dua terpidana tersebut dengan perwira jaga saat itu. "Tapi saya akan mendalami kepada mereka yang punya akses yang sering membesuk kedua terpidana itu. Apakah mereka yang membawa alat gergaji," kata Soenarko. Keterlibatan pihak luar, lanjutnya, bisa saja terjadi. Dia lalu mencontohkan kasus Gunawan (penyewa dua marinir itu Gunawan Santoso) juga pernah disusupkan pistol dari orang luar.Dua terpidana ini, Letda Syam Ahmad Sanusi dan Kopda Suud Rusli diketahui kabur dari sel tahanan pihak polisi militer di Lantamal II Jakarta, Kamis, (5/5/2005), dinihari lalu. Keduanya kabur dengan cara menggergaji jeruji besi selnya tersebut.Bersama dua rekan lainnya, kedua pembunuh tersebut menembak bos PT Asaba Boedyharto dan pengawalnya Edy Siyep di Gelanggang Olahraga Pluit, Jakarta Utara, Juli 2003 lalu.Boedyharto dan Edy Siyep tewas diberondong tembakan ketika berolahraga di GOR Pluit oleh empat anggota marinir yang disewa oleh Gunawan Santoso alias Acin. Keempat mantan anggota marinir yang ditahan pihak Pomal itu adalah Letda Syam Ahmad Sanusi, Kopda Fidel Husni, Kopda Suud Rusli dan Pratu Santoso Subiyanto. Dalam kasus penembakan itu, otak pembunuhannya adalah menantu bos Asaba sendiri, Gunawan Santoso, yang juga sempat berupaya kabur dari kendaraan tahanan kejaksaan ini. Satu tahun sejak penembakan itu, tepatnya 24 Juni 2004, Pengadilan Negeri Jakarta Utara menjatuhkan vonis mati kepada Gunawan Santoso. (umi/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads