Dalam keterangan tertulis dari MPR, Minggu (23/7/2017), pernyataan itu disampaikan OSO saat menyampaikan sambutannya pada HUT ke-82 Nahdlatul Wathan (NW) dan haul ke-20 Al-Maghfurullahu Maulana Syekh TG KH Muhammad Zainuddin Abdul Majid (Pendiri NW).
Acara berlangsung di Ponpes Nahdlatul Wathan Desa Anjani Kecamatan Suralaga, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, hari ini. Ikut hadir dua orang anggota MPR sebagai narasumber sosialisasi Empat Pilar MPR yaitu Gazali Abas dan Zainut Taukhid.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat ini, kata OSO banyak negara yang tidak ingin melihat Indonesia menjadi negara maju. Mereka bahkan berusaha menguasai Indonesia, agar bisa mengeruk kekayaan alam Indonesia yang sangat melimpah.
"Mereka gagal mempengaruhi para pemimpin Indonesia, mereka juga gagal merusak orang-orang tua. Karena itu mengalihkan serangannya pada anak muda," kata OSO.
OSO juga menegaskan, persoalan suku, agama, ras dan antar golongan sudah selesai sejak lama. Karena itu, tak ada alasan bagi bangsa Indonesia bercerai-berai. Apalagi karena alasan asal-usul, warna kulit maupun agama.
Ke depan, menurut OSO Indonesia memiliki tantangan sangat besar yaitu upaya negara-negara asing menguasai kekayaan alam di Indonesia.
"Kita harus menghentikan pertikaian sesama anak Indonesia. Mari bersatu untuk kemajuan dan kesejahteraan masyarakat," kata OSO.
OSO mengingatkan pertiakaian antara bangsa Indonesia hanya akan menguntungkan bangsa asing. Karena mereka akan lebih gampang menguasai Indonesia. Tetapi bagi bangsa Indonesia, pertikaian itu hanya akan menyebabkan kerugian yang sangat besar.
Dalam kesempatan tersebut, OSO mengapresiasi keberhasilan masyarakat NTB, khususnya NW dalam membangun dunia pendidikan. Karena dengan biaya swadaya dan tanpa bantuan pemerintah, masyarakat NTB berhasil membangun lembaga pendidikan berbagai jurusan dan tingkatan. Sementara di tempat lain, biasanya lembaga pendidikan berdiri dan dibiayai pemerintah.
Keberhasilan masyarakat NTB membangun pendidikan patut ditiru daerah lain. Ke depan OSO berharap pemerintah tidak berpangku tangan. Sudah semestinya pemerintah membantu dalam pengembangan lembaga pendidikan tersebut.
"Nahdlatul Wathan telah membeli dan membangun gedung pendidikan secara mandiri. Ke depan giliran pemerintah harus berkontribusi untuk ikut membantu mengembangkannya," tuturnya.
Menurut OSO, ia melihat masyarakat NTB sudah sangat merindukan adanya kemajuan di berbagai bidang. Bukan saja bidang pendidikan yang sudah dicapai, tapi juga bidang ekonomi, kesehatan dan kesejahteraan.
(nwy/ega)











































