Harlah ke-19, Muhaimin: PKB Banyak Belajar dari Gusdur dan NU

Harlah ke-19, Muhaimin: PKB Banyak Belajar dari Gusdur dan NU

Ibnu Hariyanto - detikNews
Minggu, 23 Jul 2017 01:48 WIB
Harlah ke-19, Muhaimin: PKB Banyak Belajar dari Gusdur dan NU
Foto: Ketum PKB Muhaimin Iskandar dan elite pemerintahan (Ibnu Hariyanto/detikcom)
Jakarta - Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar mengatakan di usia ke-19, PKB sudah dibilang matang dalam usia tapi masih jauh jika dibanding dengan Golkar, PDIP dan PPP. Namun usia muda bukan alasan untuk tidak ikut membangun dan memperbaiki kehidupan bangsa.

"Tapi usia adalah soal alam pikiran. Kemudaan itu harus menjadikan bagi kader-kader PKB dan kita semua untuk terus maju dan berusaha agar kita punya kekuatan dan membangun dan memperbaiki kehidupan bermasyarakat dan berbangsa ini," kata Muhaimin saat pidato politik di acara Harlah PKB ke-19 di lapangan DPR, Senayan, Jakarta Selatan, Sabtu (22/7/2017).

Muhaimin menerangkan pada hari ini, PKB genap berusia 19 tahun sejak pertama kali didirikan oleh KH Abdurahaman Wahid (Gusdur) dan sejumlah ulama pada tahun 1998 silam. Walaupun tergolong masih muda, para kader PKB memiliki kebanggaan karena langsung belajar dari tokoh bangsa seperti Gusdur. Menurut Muhaimin Gusdur banyak mengajarkan kepada kader PKB tentang keagamaan, tentang sebuah perjuangan dan tentang politik.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kami bersyukur di usia muda PKB ini kami terus akan memgembangkan ilmu-ilmu yang Gusdur ajarkan untuk terus membangun dan memperbaiki kehidupan berbangsa dan bernegara," kata Muhaimin.

Harlah ke-19, Muhaimin: PKB Banyak Belajar dari Gusdur dan NUFoto: Ketum PKB Muhaimin Iskandar dan elite pemerintahan (Ibnu Hariyanto/detikcom)


Untuk itu, Muhaimin mengingatkan para kader bahwa ilmu yang pernah didapat dari Gusdur untuk dijadikan spirit memajukan bangsa Indonesia. Selain dari Gusdur, PKB selama ini banyak belajar dari organisasi Nahdhatul Ulama sebagai salah satu organisasi pendiri bangsa Indonesia. Muhaimin menyebut NU tetap mendukung pemerintah Presiden saat itu Soekarno walaupun salam prosesnya sering mengkritik kebijakan Soekarno.

"NU menjadi pendukung Soekarno meski kadang tetap bersikap kritis bahkan kadang-kadang ngeyel dalam bersama membangun bangsa. Bahkan Bung Karno menikmati persahabatan yang penuh keakraban dan kekeluargaan dengan KH Wahab Hasbullah pendiri NU," tuturnya.

Setelah pidato politik, Muhaimin kemudian memotong tumpeng dan potongan tumpeng tersebut diberikan ke Menko Polhukam Wiranto. Lalu diikuti pemotongan tumpeng yang lain oleh sejumlah kader-kader PKB yang hadir dalam acara tersebut.

(ibh/dnu)


Berita Terkait