Ia mengatakan, untuk sekolah setingkat menengah atas atau SMA, Pemerintah Provinsi Banten mencatat ada 4 ribu lebih ruang kelas yang rusak. Sedangkan untuk SMP dan SD, ia belum mendapatkan data pasti. Namun, karena kemungkinan banyak ruang kelas yang rusak, ia berjanji akan datang ke pemerintah kabupaten dan kota di seluruh Banten.
"(Sekolah rusak) ini menjadi darurat, saya sepakat itu," kata Wahidin kepada wartawan di Kota Serang, Jumat (21/7/2017).
Sekolah rusak di Banten. (Bahtiar/detikcom) |
Untuk membantu pembangunan sekolah yang rusak, ia mengatakan akan melakukan konsolidasi membangun hubungan dengan kepala daerah di kabupaten/kota. Apalagi banyak pemerintah di daerah yang belum memprioritaskan pembangunan sekolah.
"Prinsip saya, sekolah di Banten harus bagus. Itu nanti dalam operasional (pembangunannya) bisa dikerjasamakan," ucapnya.
Termasuk, Wahidin melanjutkan, ia sudah meminta pihak perusahaan swasta atau bank bisa mengucurkan bantuan melalui dana CSR untuk membangun sekolah rusak atau akses jembatan untuk sekolah, seperti di daerah Pandeglang dan Lebak.
Wahidin berjanji, pada Agustus nanti, ia akan mulai melakukan komunikasi dengan pimpinan daerah di masing-masing tempat. Ini dilakukan untuk mengetahui secara langsung kondisi pendidikan di daerah. Termasuk ke Pandeglang untuk melihat kondisi bangunan SD yang hanya terbuat dari bilik bambu.
"Makanya mau ngundang Dinas Pendidikan Pandeglang saya juga telepon bupatinya. Ini menjadi darurat," katanya. (bri/rvk)












































Sekolah rusak di Banten. (Bahtiar/detikcom)