detikNews
Jumat 21 Juli 2017, 10:36 WIB

Akademisi Kalteng: Di Sini Luas dan Nyaman Jadi Ibu Kota

Noval Dhwinuari Antony - detikNews
Akademisi Kalteng: Di Sini Luas dan Nyaman Jadi Ibu Kota ilustrasi Kota Palangka Raya (Foto: Eduardo Hasian Simorangkir-detikcom)
Jakarta - Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palangka Raya, Ibnu Elmi AS Pelu menilai Kalimantan Tengah pantas jadi ibu kota negara Indonesia karena memiliki lahan yang luas. Kalteng juga akan nyaman menjadi ibu kota negara karena masyarakatnya yang terbuka dan plural.

"Saya melihat dulu dari sebuah esensi masyarakat Kalteng, masyarakat Kalteng itu masyarakat yang plural, dan bersifat open, dia bukan bersifat tertutup dan menolak. Nah kenapa selama ini tumbuh keberagaman di Kalteng, karena dia memiliki dasar konsep keberagaman itu sendiri dari sisi suku, agama, bahasa, sampai juga termasuk pola tata kehidupan," ujar Ibnu kepada detikcom, Kamis (12/7/2017) lalu.





Ibnu juga memandang Kalteng menyediakan lahan yang lebih luas dari ibu kota Jakarta.

"Kita juga melihat bahwa sesungguhnya Kalteng tempat yang representatif untu memberikan kenyamanan. Salah satunya tadi, misalnya contohnya layanan publik. Mohon maaf, untuk di Jakarta dalam pelayanan administrasi pemerintahan, waktu 3 jam tidak cukup untuk dari satu Kementerian ke Kementerian yang lain," ungkapnya.

Kalteng memungkinkan dibangun ibu kota karena tidak mencampurkan pusat pemerintahan dengan masalah sosial. Dia menilai kawasan ibu kota yang baru harus memberikan tempat yang lenggang dan nyaman untuk pemerintah pusat. Pemindahan ibu kota negara adalah suatu manajamen Keindonesiaan.

"Saya coba menanggapi (wacana pemindahan ibu kota) dari sisi warga negara Indonesia. Sebuah wacana kebijakan yang nanti akan berubah menjadi dokumen kebijakan dan terakhirnya nanti menjadi sebuah landasan hukum kebijakan. Nah wacana ini saya anggap sebagai sebuah wacana yang disebut dengan manajemen ke-Indonesiaan," sebutnya.

"Sebetulnya ibu kota negara itu hanya posisinya saja yang ada di Jakarta, tetapi manajemennya itu di seluruh wilayah Republik Indonesia yang meliputi 3 aspek, yaitu aspek geografis, aspek demografis dan aspek pemerintahan. Nah oleh sebab itu sebuah wacana pemindahan ibu kota negara kita harus disambut postif, pastinya ini adalah sebuah gagasan untuk keberlanjutan negara Indonesia yang ke depan itu mampu memberikan pelayanan ke luar dan ke dalam," tambahnya.

Menurut Ibnu munculnya nama Kalteng dengan wacana pemindahan ibu kota negara adalah karena berbagai aspek penilaian. Selain ketersediaan lahan, masyarakat Kalteng sudah terbiasa dengan keberagaman. Hal ini membuat mereka menerima urbanisasi yang terjadi sebagai dampak pemindahan ibu kota.

"Nah sampai itu modal Kalteng dalam menerima wacana ibu kota negara ini tidak lain karena Kalteng adalah sudah terbiasa dengan kehidupan yang pluralisme, nah saya pikir itu Kalteng punya alasan historis yang kuat. Kalau menuju kepada terciptanya manajemen ke-Indonesiaan itu yang secara posisi geografis ini berada pada posisi tengah, dan juga masyarakat krusial di Kalteng juga tidak menolak untuk menjadi sebuah ibu kota negara. Itu dari sisi yang pertama," ucapnya.

"Dari sisi yang kedua, luasan Kalteng itu satu setengah kali pulau Jawa, karena kebutuhan ibu kota negara itu kan kecil,secara landscape-nya, posisi tanahnya kecil, nah oleh sebab itu sebetulnya di sini bisa dibentuk satuan negara yang akan dibentengi oleh hutan oleh sungai, nah posisi ini kan masih bisa dikaji oleh pemerintah provisnsi," tutupnya.
(nvl/rvk)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com