Hal tersebut diungkapkan oleh Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Partai Golkar Yorrys Raweyai. Dia mengatakan Golkar membuka ruang bagi kader untuk berpendapat.
"Bisa saja sepanjang dia tidak menyuarakan hal-hal yang di luar substansi konteks itu. Ini kan demokrasi, kebebasan. Boleh saja (berbicara). Tapi nggak bisa ikut bicara yang macam-macam dalam strukturnya, tapi sebagai kader," ujar Yorrys kepada wartawan di rumah Aburizal Bakrie, Jalan Mangunsarkoro 42, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (18/7/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Alasan kenapa dilaksanakan munaslub, pertama, karena ketua umum meninggal dunia. Kedua, karena dia berhalangan. Nah, ini kan diatur dalam juklan (petunjuk pelaksanaan). Situasi itu berbeda," ucap Yorrys.
"Yang penting sekarang itu belum pernah dibicarakan atau diwacanakan di internal partai. Kalau kader ingin membicarakan itu di media dalam diskusi, silakan saja. Kita kan publik. Silakan, tapi secara struktural tidak boleh," sambungnya.
Pria kelahiran Serui, Papua Barat, itu mengaku prihatin dengan status tersangka Novanto. Namun Partai Golkar harus solid untuk menghadapi Pemilu 2019.
"Sekarang kita prihatin terhadap musibah yang kita alami ini. Pertama, bagaimana kita membangun solidaritas melaksanakan konsolidasi dengan melakukan agenda-agenda politik menuju (Pemilu) 2019. Itu dulu," kata Yorrys. (aik/aik)











































