detikNews
Senin 17 Juli 2017, 15:16 WIB

Komnas PA Harap Orang Tua Tanamkan Sikap Toleransi pada Anak

Dwi Andayani - detikNews
Komnas PA Harap Orang Tua Tanamkan Sikap Toleransi pada Anak Komnas PA harap orang tua tanamkan nilai toleransi kepada anak (Foto: Dwi Andayani/detikcom)
Jakarta - Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) Arist Merdeka Sirait mengatakan situasi politik, sosial dan masyarakat saat ini perlu mendapatkan perhatian. Hal ini dikarenakan berpengaruh terhadap terjadinya penanaman paham radikalisme, intoleransi, kebencian, dan persekusi terhadap anak.

"Bersamaan dengan Hari Anak Nasional tentu kita ingin mengisi makna yang sesungguhnya, jangan sampai hanya jadi seremoni saja. Situasi politik, situasi sosial, dan masyarakat saat ini perlu mendapatkan perhatian karena mengorbankan anak-anak kita," kata Arist di Kantor Komnas PA, Jl TB Simatupang, Pasar Rebo, Jakarta Timur, Senin, (17/7/2017).

Dia mengatakan hal ini dalam Konferensi Pers tentang Sikap Komnas PA terhadap maraknya penanaman paham-paham kebencian, kekerasan, intoleransi, dan persekusi di kalangan anak-anak Indonesia. Menurutnya terdapat berbagai macam bentuk penanaman hal tersebut seperti perilaku anak yang mem-bully anak lain, karena adanya perbedaan pemahaman maupun agama.

"Anak-anak sekarang ditanam nilai yang bisa menyebut suatu kelompok tertentu, anak disebut kafir karena beda agama, beda pemahaman dan menghambat tujuan, visi dan misi kelompok tertentu. Selain itu fakta lain juga menunjukan satu dari empat anak di-bully karena agama," ujar Arist.

Ia juga mengatakan masih banyak anak yang mempertimbangkan agama dalam memilih teman. Serta masih adanya paham radikalisme, yang diajarkan pada anak.

"79,05 persen siswa mempertimbangkan agama dalam memilih teman, dan anak diajarkan kebencian dengan cara melibatkan anak dalam kegiatan aksi demonstrasi, kegiatan politik orang dewasa. Serta mengajarkan anak paham radikalisme, untuk kepentingan kelompok orang dewasa dengan bungkus identitas agama," kata Arist.

Hal ini menurutnya bisa dicegah dengan beberapa cara, yang bisa digunakan untuk menangkal paham radikalisme. Salah satu dengan cara mengajarkan tenggang rasa pada anak, dan mengajarkan bahwa perbedaan merupakan sebuah karunia.

"Mengajarkan pada anak untuk mengakui persamaan derajat, persamaan hak asasi setiap manusia tanpa membeda-bedakan suku, keturunan, agama, kepercayaan, warna kulit dan sebagainya. Serta ajarkan dan tanamkan kepada anak bahwa perbedaan adalah ciptaan tuhan dan sebagai karunia," ujar Arist.

Orang tua juga berperan penting, dalam mendidik anak dari paham radikalisme, kebencian dan intoleransi. Di antaranya, dengan memberikan pendidikan keagamaan dan memperkenalkan dengan makna pluralisme.

"Sempurnakan pendidikan keagamaan dalam keluarga, dan orang tua juga wajib memperagakan keteladanan dalam keluarga. Kemudian ajarkan kepada anak tentang nilai-nilai toleransi serta perkenalkan sejak dini kepada anak makna pluralisme," kata Arist.
(jbr/jbr)


Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com