Melongok Jumatan di Ponpes Salat Berbahasa Indonesia

Melongok Jumatan di Ponpes Salat Berbahasa Indonesia

- detikNews
Jumat, 06 Mei 2005 15:00 WIB
Malang - Pondok Pesantren I'tikaf Ngadi Lelaku, Malang, Jawa Timur kini jadi bahan pembicaraan banyak orang. Pesantren yang mengajarkan salat dengan menggunakan dua bahasa, Indonesia dan Arab ini mendadak terkenal. Bagaimana, mereka melakukan salat Jumat? detikcom sengaja melongok tata cara jumatan di pondok pesantren yang terbilang kecil ini. Dan ternyata, tata cara salat Jumat mereka sama di tempat lain. Yang membedakan, hanya pada salat Jumat, menggunakan bahasa Arab dan Indonesia. Tata cara khotbah sama! Tapi, suasana jumatan di ponpes I'tikaf Ngadi Lelaku hari ini, Jumat (6/5/2005) berbeda dari hari biasa. Sejak pagi belasan wartawan sudah menunggu-nunggu di halaman pondok. Demikian juga beberapa petugas kepolisian berpakaian preman dari Polsek Lawang, Polres dan Polwil Malang berjaga-jaga sejak pagi.Sementara para santri yang akan ikut salat Jumat telah berdatangan sejak pukul 09.00 WIB. Mereka mengaku berasal dari beberapa kota di sekitar Malang. Antara lain, datang dari Tulungagung, Ngunut, Singosari dan Lawang, Malang. Mereka rata-rata berusia 45 tahun ke atas. Dari sekitar 15 jamaah , hanya satu orang yang berusia sekitar 20 tahun. Mereka datang ke pondok dengan mengendarai kendaraan umum. Sampai menjelang Jumatan, ada 10 laki-laki dan 5 orang perempuan yang menjadi santri pondok tersebut datang, dan mengikuti salat Jumat. Mereka mengenakan pakaian biasa, baju dan celana panjang. Tidak ada yang mengenakan sarung dan baju koko, pakaian yang sering dikenakan santri umumnya. Tepat pukul 12.15 Wib, jumatan di ponpes yang lagi menjadi perbincangan di masyarakat ini dimulai. Ustad Muhammad Yusman Roy memimpin langsung Jumatan tersebut. Mereka mengambil tempat di ruang pertemuan, salah satu bangunan di kompleks tersebut.Jumatan yang dilakukan ponpes I'tikaf Ngadi Lelaku ternyata tidak beda dengan jumatan di tempat lain. Cuma cara adzan-nya, tidak seperti yang dilakukan NU (Nahdlatul Ulama). Di sini, adzan hanya dikumandangkan sekali saja, setelah khatib Ustadz Yusman Roy naik mimbar dan menyampaikan salam. Saat berkhotbah, Ustadz Yusman Roy mengawali dengan bacaan-bacaan rukun salat Jumat. Bacaan itu disampaikan dalam bahasa Arab, tanpa diartikan dalam Bahasa Indonesia. Setelah itu, ustadz yang mantan petinju dan mantan preman ini berceramah dengan menggunakan bahsa Indonesia. Di akhir ceramahnya dalam khotbah kedua, Ustadz Yusman Roy tetap membacakan doa dengan bahasa Arab. Sampai khotbah Jumat selesai, dari sisi tata cara tidak ada yang membedakan dengan tata cara khotbah salat Jumat di tempat lain. Yang membedakan adalah, jumatan yang diikuti 15 santri ini mendapat liputan media yang cukup besar. Sekitar 20 wartawan dari media cetak, elektronik dan radio mengabadikan peristiwa tersebut.Setelah khatib mengakhiri ceramahnya, dilanjutkan dengan salat Jumat. Salat dua rakaat ini baru menggunakan dua bahasa, yakni Bahasa Arab dan Bahasa Indonesia seperti salat-salat sebelumnya di pondok tersebut.Setelah salat Jumat, dilanjutkan dengan ceramah. Dalam ceramahnya, ustadz Roy berpesan kepada para jamaah agar menjaga kewaspadaan, karena setelah media massa mengungkap pesantrennya, berbagai pendapat pro dan kontra muncul.Salah seorang santri ustadz Roy menyatakan, sebelum pesantrennya muncul di media, santri yang ikut jumatan antara 25-40 orang. Namun, saat ini banyak yang tidak datang karena diinstruksikan agar waspada dan tidak datang dulu. (jon/)


Berita Terkait