Suatu hari, Ateng bertemu dengan kawan masa kecilnya, Iskak, yang baru pulang dari perantauan. Iskak datang dari Jakarta dengan gaya luar biasa. Ke mana-mana, headset menempel di telinganya. Iskak bercerita betapa enak hidup di Jakarta. Termakan bualan Iskak, Ateng berangkat ke Jakarta. Apa yang dia temui di Ibu Kota sangat jauh dari cerita Iskak. Kesialan demi kesialan dia alami.
"Ternyata kejamnya ibu tiri tak sekejam Ibu Kota," kata Ateng dalam film Kejamnya Ibu Tiri Tak Sekejam Ibu Kota. Film yang disutradarai oleh Imam Tantowi dan dibintangi oleh Ateng, Iskak, dan Doris itu tayang di bioskop-bioskop sudah lebih dari 35 tahun lalu.
Entah benar atau tidak bahwa Jakarta lebih kejam daripada "ibu tiri", nyatanya setiap tahun ribuan orang dari seluruh Indonesia merantau ke ibu kota negara. Kata orang, di mana ada gula, ke sanalah semut menuju.
Berita selengkapnya dapat Anda baca di sini: (sap/irw)











































