Jumatan di Pesantren Salat Berbahasa Indonesia
Jumat, 06 Mei 2005 14:59 WIB
Jakarta - Mau tahu salat Jumat di Pondok Itikaf Ngadi Lelaku, Malang, Jawa Timur, pondok pesantren yang mengajarkan salat berbahasa Indonesia. Ternyata sama saja dengan jumatan di tempat lain. Yang beda, hanya pas salat, sang imam menggunakan dua bahasa.Yang jelas, jumatan di ponpes Itikaf Ngadi lelaku kali ini beda dari hari biasa. Sejak pagi belasan wartawan sudah menunggu-nunggu di halaman pondok. Demikian juga beberapa petugas kepolisian berpakaian preman dari Polsek Lawang, Polres dan Polwil Malang berjaga-jaga sejak pagi.Sementara para santri yang ikut jumatan berdatangan sejak pukul 09.00 Wib. Mereka mengaku berasal dari beberapa kota di sekitar Malang. Diantaranya datang dari Tulungagung, Ngunut, Singosari dan Lawang, Malang. Mereka rata-raa berusia 45 tahun ke atas. Dari sekitar 15 jamaah , hanya satu orang yang berusia sekitar 20 tahun. Mereka datang ke pondok dengan mengendarai kendaraan umum. Sampai menjelang Jumatan, ada 10 laki-laki dan 5 orang perempuan yang menjadi santri pondok tersebut datang, dan mengikuti salat Jumat. Mereka mengenakan pakaian biasa, baju dan celana panjang. Tak tampak seperti santri pada umumnya yang mengenakan sarung dan baju koko.Tepat pukul 12.15 Wib, jumatan di ponpes yang lagi menjadi perbincangan di masyarakat ini di mulai. Ustad Muhammad Yusman Roy memimpin langsung Jumatan tersebut. Mereka mengambil tempat di ruang pertemuan, salah satu bangunan di komplek tersebut.Jumatan yang dilakukan ponpes Itikaf Ngadi Lelaku ternyata tidak beda dengan jumatan di tempat lain. Diawali dengan Ustadz Roy naik ke mimbar, adzan dikumandangkan kemudian ustadz Roy bertindak sebagai khatib melakukan ceramah. Ceramah diawali dengan bacaan tanpa disertai artinya dalam Bahasa Indonesia. Baru materi ceramah menggunakan Bahasa Indonesia dan di akhir cemarah doa tetap menggunakan Bahasa Arab.Tak ada yang beda dengan jumatan tempat lain. Yang membedakan adalah, jumatan yang diikuti 15 santri ini mendapat liputan media yang cukup besar. Sekitar 20 wartawan dari media cetak, elektronik dan radio mengabadikan peristiwa tersebut.Setelah khatib mengakhiri ceramahnya, dilanjutkan dengan salat Jumat. Salat dua raakat ini baru menggunakan dua bahasa, yakni Bahasa Arab dan Bahasa Indonesia seperti salat-salat sebelumnya di pondok tersebut.Setelah salat Jumat, dilanjutkan dengan ceramah. Dalam ceramahnya ustadz Roy berpesan kepada para jemaah agar menjaga kewaspadaan, karena seetlah media massa mengungkap pesantrennya, berbagai pendapat pro dan kontra muncul.Salah seorang santri usatdz Roy menyatakan sebelum pesantrennya muncul di media, santri yang ikut jumatan antara 25-40 orang. Namun, saat ini banyak yang gak datang karena diintruksikan agar waspada dan jangan datang dulu.
(jon/)











































