"Hanura berpandangan bahwa konsekuensi berkoalisi itu adalah sejalan dalam hal keputusan penting dan strategis," ucap Wasekjen Hanura Dadang Rusdiana kepada wartawan, Jumat (14/7/2017).
Menurut Dadang, perbedaan pendapat dalam sebuah masalah merupakan hal yang wajar. Namun, jika sudah ada keputusan, koalisi harus kompak.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dadang menegaskan kepada PAN, kalau mau terus-terusan mengambil sikap berbeda, lebih baik PAN mencari posisi lain. Jangan sampai koalisi tidak satu suara.
"Kalau terus ingin berbeda, ya bukan koalisi dong, lebih baik dengan jantan mengambil posisi lain. Ya tentunya kalau PAN sudah merasa tidak nyaman, mencari posisi lain lebih baik," ucap Dadang.
Meski demikian, Hanura masih akan memantau sikap PAN dalam koalisi. Perppu 2/2017 menjadi acuan apakah PAN masih 'nurut' kepada Jokowi atau tidak. Jika tidak, Jokowi harus mengambil tindakan.
"Kalau PAN masih bisa memperbaiki kekompakan, tentunya kita pun terbuka. Kita lihat pada sikap PAN atas Perppu 2 Tahun 2017," ujar Dadang.
"Kalau dalam Perppu masih terus ingin berbeda, tentunya kita serahkan kepada Presiden tentang apa yang akan dilakukan kepada (PAN) sebagai anggota koalisi pemerintahan. Jangan 'barangnya' mau, 'barengnya' nggak mau," ucap dia. (gbr/imk)











































