Tekan Kasus Demam Berdarah, Pemkot Semarang Didukung Kemenkes
Upaya pemerintah Kota (Pemkot) Semarang untuk terus menekan kasus demam berdarah memperoleh dukungan dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Kemenkes menggandeng Semarang menjadi tempat pelaksanaan penelitian dan pengembangan penyakit demam berdarah.
Dalam keterangan tertulis dari Pemkot Semarang, Rabu (12/7/2017), dukungan tersebut diwujudkan dalam bentuk penandatanganan MoU. MoU tersebut antara Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Kesehatan (Balitbangkes) yang diwakili oleh Kepala Balitbangkes Siswanto dengan Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi di Ruang VIP Wali Kota, Semarang, Selasa (11/7/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Bagi masyarakat, saya rasa penelitian dan pengembangan demam berdarah ini yang nantinya dilakukan oleh Balitbangkes akan memberikan semacam edukasi bagi warga masyarakat untuk lebih menyadari pentingnya pola hidup bersih dan sehat sehingga terhindar dari kasus demam berdarah. Meskipun fase demam berdarah di kota Semarang sudah turun signifikan dari ranking tiga menjadi rangking dua puluh sembilan," ujar Hendi.
Lebih lanjut dikatakan Hendi, bagi Pemkot Semarang, hasil penelitian yang dilakukan terhadap penyakit demam berdarah ke depannya dapat dijadikan bahan referensi bagi pengambilan kebijakan yang tepat. Hal ini akan menekan kasus demam berdarah di Kota Semarang.
Sementara Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, Widoyono menjelaskan lebih terperinci ruang lingkup penelitian dan pengembangan dalam MoU. Hal ini meliputi upaya pencegahan, penanggulangan, dan sosialisasi demam berdarah.
Upaya sosialisasi demam berdarah misalnya masyarakat lebih menyukai 3M plus daripada fogging. Selain itu peran serta tokoh masyarakat lurah, camat terhadap penurunan kasus demam berdarah.
"(Upaya lainnya) Bagaimana kemandirian masyarakat untuk sadar menurunkan kasus secara mandiri. Bagaimana pemerintah bisa menegakkan perda tentang penanggulangan demam berdarah," ucap Widoyono.
(nwy/ega)











































