DetikNews
Rabu 12 Juli 2017, 10:29 WIB

Sosok Tsamara Amany Dianggap Mirip dengan AR Baswedan

Sudrajat - detikNews
Sosok Tsamara Amany Dianggap Mirip dengan AR Baswedan Tsamara Amany yang berani Twitwar dengan Wakil Ketua DPR, Fahri Hamzah (Foto: dok. Istimewa)
Jakarta - Kemunculan politikus muda Tsamara Amany yang berani Twitwar dengan Wakil Ketua DPR, Fahri Hamzah soal Pansus Angket KPK berhasil memantik perhatian publik. Maklum Tsamara yang saat ini menjadi salah satu Ketua DPP Partai Solidaritas Indonesia (PSI) itu masih tergolong muda.

Dia kelahiran 24 Juni 1996 dan saat ini duduk di Semester VI Jurusan Ilmu Komunikasi di Universitas Paramadina. Sejarahwan dari Yayasan Nabil, Didi Kwartanada menilai Tsamara yang biasa disapa Sammy itu adalah sosok yang fenomenal.

Bahkan Didi yang pernah menulis biografi 'AR Baswedan Membangun Bangsa, Merajut Keindonesiaan' itu menilai, Sammy mirip dengan sosok AR Baswedan.

"Tsamara ini fenomenal, dia mirip sekali dengan AR Baswedan. Kalau Baswedan berkawan dengan wartawan dan penulis kawakan Liem Koen Hian, Tsamara ini berteman dengan Pak Basuki (Tjahaja Purnama atau Ahok)," kata Didi saat berbincang dengan detikcom, Rabu (12/7/2017).

Tentang kiprah AR Baswedan, Didi dalam buku tersebut antara lain memaparkan kiprah kakek dari Anies Baswedan itu yang sangat Indonesia Sentris. Ia memelopori bagaimana warga keturunan harus berinteraksi dengan pribumi asli. Membaur dalam kehidupan bermasyarakat sebagai warga negara yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Biarpun dia keturunan arab, Baswedan mengakui bahwa tanah airnya adalah Indonesia karena ia lahir dan dibesarkan dengan nilai nilai kebudayaan Indonesia bukan dengan lingkungan budaya Arab.

Tentu saja dia banyak mendapat kecaman dari golongan Wulaiti yang beranggapan bahwa tanah airnya adalah arab, bukan Indonesia. Bagi mereka Indonesia adalah tempat mencari nafkah saja. Tapi AR Baswedan berani berseberangan dengan mereka.

Tsamara sendiri tak terlalu mempedulikan asal usul identitas pribadinya. Bahkan ia berpendapat soal identitas kesukuan, etnis, agama, atau paras seseorang tak perlu dipermasalahkan lagi. Meski begitu bukan berarti dirinya mengabaikan sepenuhnya asal-usul leluhurnya.

"Cuma sebagai anak muda kita harus berani meninggalkan fanatisme buta atas golongan karena kita sama-sama lahir di bumi Indonesia," ujar Tsamara.
(erd/fjp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed