Untuk diketahui, kebijakan belajar 8 jam di sekolah selama Senin-Jumat tersebut dikeluarkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy, yang notabene berasal dari kalangan Muhammadiyah. Ditegaskan Said Aqil, jika kebijakan itu pun dikeluarkan oleh menteri yang berasal dari kalangan NU, dia akan menentangnya.
"Ini bukan masalah NU dan Muhammadiyah. Seandainya menterinya NU pun, saya lawan. Saya tantang seandainya menteri NU. Ini bukan NU-Muhammadiyah," kata Said Aqil setelah bertemu dengan Presiden Jokowi di Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (11/7/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ya (Presiden Jokowi) sepakat, dan kemarin saya ketemu Pak JK juga sama pendapatnya. Pak JK sendiri, 'Saya bisa dagang ini karena kalau pulang (sekolah) mampir ke toko ayah.' Lahir jiwa dagang. Sama saja anak petani pulang ke sawah. Kalau alasannya hari Sabtu jalan-jalan sama orang tuanya, itu orang kaya itu," kata Said Aqil.
Said Aqil juga menekankan pentingnya keberadaan madrasah. Kebijakan yang sudah ada berjalan selama ini dinilainya sudah baik. Di mana siswa yang sudah selesai sekolah bisa pulang ke rumah dan melanjutkan belajar ke madrasah.
"Kalau pertimbangan agar anak ada pembentukan karakter, ya sekarang juga sudah berjalan, dibentuk oleh madrasah-madrasah itu, pesantren-pesantren itu. Aman saja. Justru kita khawatirkan jadi radikal kalau tanpa madrasah," katanya. (jor/dhn)











































